Pencarian

Harga Minyak Sentuh US$125,53 per Barel, BI Waspadai Tekanan Inflasi dan Kurs

Senin, 28 September 2026 • 12:49:01 WIB
Harga Minyak Sentuh US$125,53 per Barel, BI Waspadai Tekanan Inflasi dan Kurs
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan peringatan lonjakan harga minyak dunia dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/9/2026).

SULAWESI TENGAH — Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memperingatkan lonjakan harga minyak dunia yang mencapai US$125,53 per barel pada 24 September 2026, naik tajam dari rata-rata Agustus di kisaran US$90,88 per barel. Tekanan itu datang bersamaan dengan inflasi global yang menyentuh 4,6% dan penguatan indeks dolar AS ke level 101,11. BI menyiapkan bauran kebijakan lebih adaptif untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan menahan arus modal keluar dari negara berkembang.

Peringatan itu disampaikan Destry dalam rapat bersama Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat RI, Senin (28/9/2026). Menurutnya, kombinasi harga minyak yang melonjak dan inflasi global yang tinggi menjadi tantangan eksternal yang harus diantisipasi agar tidak merembet ke stabilitas ekonomi domestik.

Bank sentral Amerika Serikat juga masih berada dalam fase pengetatan moneter. Destry menyebut The Fed telah menaikkan suku bunga 25 basis poin dan BI memperkirakan masih ada satu kali kenaikan lagi pada kuartal IV 2026.

Dolar Menguat, Modal Asing Berpotensi Keluar

Penguatan dolar AS menjadi pemicu utama kekhawatiran BI. Indeks dolar atau DXY mencapai 101,11, sementara indeks dolar terhadap mata uang Asia berada di level 96,26.

Kondisi tersebut mendorong perpindahan arus modal dari negara berkembang menuju aset yang dinilai lebih berisiko rendah. Bagi Indonesia, tekanan ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan memperbesar risiko capital outflow jika tidak diantisipasi.

Destry menegaskan tekanan eksternal perlu menjadi perhatian karena dapat berpengaruh langsung terhadap stabilitas nilai tukar dan arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ekonomi Domestik Masih Terkendali

Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih relatif terkendali. Ekonomi tumbuh 5,29% pada kuartal II 2026, sementara secara kumulatif pada semester I 2026 mencapai sekitar 5,45%.

BI memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tumbuh di kisaran 4,9%-5,7%. Pada 2027, pertumbuhan diperkirakan meningkat ke rentang 5,2%-6%, dengan salah satu asumsi utamanya adalah meningkatnya investasi swasta.

Proyeksi itu menjadi penting bagi pelaku pasar karena memberi gambaran bahwa ruang pelonggaran moneter tetap ada, meski prioritas saat ini bergeser ke stabilitas.

Kebijakan Moneter Diarahkan Pro-Stability

BI akan mengarahkan kebijakan moneter untuk lebih menjaga stabilitas, sementara kebijakan lainnya diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Seluruh kebijakan tersebut, menurut Destry, perlu dilakukan secara terintegrasi dengan pemerintah dan otoritas terkait.

"Kebijakan moneter akan diarahkan untuk lebih pro-stability, sementara kebijakan lainnya diarahkan untuk lebih mendorong pertumbuhan ekonomi," ujar Destry.

Dengan tekanan harga minyak, inflasi global, penguatan dolar, dan potensi arus modal keluar yang masih menjadi tantangan, BI akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi.

Bagi investor, pernyataan ini menjadi sinyal bahwa ruang penurunan suku bunga acuan kemungkinan tertahan dalam waktu dekat. Sementara pelaku usaha perlu mencermati dampak lanjutan dari kenaikan harga minyak terhadap biaya input dan daya beli konsumen.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wartaekonomi.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks