Pencarian

IHSG Terkoreksi 0,57 Persen ke 6.562 di Tengah Kenaikan Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Global

Rabu, 02 September 2026 • 14:39:32 WIB
IHSG Terkoreksi 0,57 Persen ke 6.562 di Tengah Kenaikan Harga Minyak dan Imbal Hasil Obligasi Global
Pedagang memantau pergerakan indeks di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (2/9/2026). IHSG terkoreksi 0,57 persen ke level 6.562,60.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia bergerak melemah pada perdagangan Rabu pagi, terkoreksi 37,34 poin atau 0,57 persen ke posisi 6.562,60. Pelemahan ini terjadi setelah indeks sempat dibuka menguat, namun tertekan sentimen global berupa kenaikan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menyentuh level tertinggi sejak 2023.

JAKARTA — Tekanan jual di pasar saham domestik kembali muncul pada perdagangan Rabu pagi. Setelah dibuka di zona hijau, IHSG berbalik melemah dan berada di level 6.562,60 pada pukul 09.50 WIB. Indeks LQ45 yang memuat 45 saham unggulan juga turut terkoreksi 4,61 poin atau 0,70 persen ke posisi 649,80.

Harga Minyak Naik Hampir 5 Persen, Imbal Hasil Obligasi AS Tembus Level Tertinggi

Pelemahan IHSG mengikuti pergerakan bursa kawasan Asia dan global yang sama-sama tertekan. Pemicu utamanya datang dari pasar komoditas dan obligasi dunia. Harga minyak mentah global ditutup naik hampir 5 persen pada Selasa (1/9) seiring meningkatnya ketegangan politik antara AS dan Iran.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin ke level 4,792 persen. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak November 2023. Kekhawatiran terhadap inflasi dan utang fiskal menjadi pendorong utama aksi jual di pasar obligasi global.

Tekanan serupa juga terlihat di kawasan lain. Imbal hasil obligasi Jepang tenor 10 tahun mencapai level 3 persen untuk pertama kalinya sejak Agustus 1996. Sementara imbal hasil obligasi Jerman tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Maret 2011, dan obligasi Inggris tenor 10 tahun mencatat level tertinggi sejak Juli 2007.

Bursa Asia–Eropa Kompak Melemah, Indeks Nikkei Jatuh 2,65 Persen

Kondisi pasar keuangan global yang tidak menentu langsung tercermin dari kinerja bursa dunia. Bursa Eropa kompak melemah pada Selasa (1/9), dengan Euro Stoxx 50 turun 0,81 persen, DAX Jerman melemah 1,10 persen, dan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,39 persen. Bursa AS Wall Street juga kompak ditutup di zona merah.

Paginya, indeks Nikkei menjadi yang paling parah di kawasan Asia dengan koreksi 2,65 persen ke level 64.456,00. Indeks Hang Seng turun 1,36 persen, Kospi melemah 2,9 persen, dan Shanghai melemah 0,88 persen.

Inflasi Agustus Naik ke 3,19 Persen, PMI Manufaktur Kembali Kontraksi

Dari dalam negeri, data ekonomi yang dirilis turut mewarnai sentimen pasar. Inflasi domestik tercatat naik menjadi 3,19 persen year on year (yoy) pada Agustus 2026, dari sebelumnya 2,88 persen (yoy). Kenaikan harga makanan dan transportasi menjadi pendorong utama, dengan inflasi inti berada di level 2,96 persen (yoy).

Sementara itu, indeks manufaktur PMI kembali mengalami kontraksi di level 49,8 pada Agustus 2026, turun dari 50,2 pada Juli 2026. Meski berada di bawah angka 50 yang menandakan kontraksi, posisi ini masih lebih baik dibandingkan kondisi pada April dan Juni 2026.

Di tengah pelemahan tersebut, neraca perdagangan mencatat surplus 0,13 miliar dolar AS pada Juli 2026. Capaian ini di luar dugaan setelah dua bulan berturut-turut mengalami defisit.

Analis: IHSG Perlu Bertahan di Atas 6.635 untuk Hindari Konsolidasi

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengatakan level 6.635 menjadi titik krusial bagi pergerakan IHSG selanjutnya. Jika indeks mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menutup gap di 6.705 masih terbuka. Namun jika gagal, IHSG diperkirakan akan berkonsolidasi pada kisaran 6.535 hingga 6.635.

Dari sisi kebijakan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada 2027. Target ini menjadi arah utama dalam penyusunan RAPBN 2027, dengan investasi pemerintah berperan sebagai katalis dan sektor swasta didorong menjadi motor utama investasi. Danantara akan berkontribusi pada investasi di sektor strategis dan hilirisasi untuk mencapai target pertumbuhan investasi hingga 7 persen.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sulteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks