Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, tercatat 44 kejadian hingga akhir Agustus 2026. Bupati Donggala Vera Elena Laruni menyebut kejadian paling masif terjadi di wilayah Sindue Tobata, dengan luas lahan terbakar mencapai 13 hektare di Desa Alindau. Penanganan di lokasi terluas itu melibatkan 150 personel gabungan selama dua hari pemadaman.
DONGGALA — Pemerintah Kabupaten Donggala mencatat 44 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang periode hingga akhir Agustus 2026. Angka ini merupakan akumulasi laporan yang masuk dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Bupati Donggala Vera Elena Laruni mengungkapkan, frekuensi kejadian karhutla di daerahnya meningkat drastis selama Agustus. "Jadi, memang laporan masuk dari BPBD di Donggala selama Agustus 2026, kejadian karhutla paling masif di Donggala pada bagian Sindue Tobata," ujarnya di Banawa, Senin.
Kebakaran Terluas di Desa Alindau
Dari puluhan kejadian tersebut, titik terparah berada di Desa Alindau, Kecamatan Sindue Tobata. Luas lahan yang terbakar di desa ini mencapai 13 hektare, menjadikannya sebagai peristiwa karhutla dengan dampak terluas di Kabupaten Donggala.
Proses pemadaman di Alindau berlangsung selama dua hari. Upaya ini melibatkan personel BPBD yang dibantu aparat TNI, Polri, serta masyarakat setempat. "Penanganan karhutla di Alindau selama dua hari yang dipadamkan BPBD dibantu TNI, Polri dan masyarakat setempat dengan total 150 orang terlibat secara langsung dalam pemadaman tersebut," kata Vera.
Intensitas Karhutla yang Tinggi
Bupati Donggala menyebut frekuensi kebakaran di wilayahnya sangat tinggi selama musim kemarau tahun ini. Dalam satu hari, potensi munculnya titik api bisa berulang hingga hampir tiga kali.
"Kalau bicara frekuensi, di Agustus ini bisa terjadi hampir tiga kali sehari," ungkap Vera Elena Laruni. Kondisi ini menunjukkan tingkat kerawanan yang serius di sejumlah kecamatan, terutama yang memiliki area lahan kering dan semak belukar.
Penyebab Masih Diselidiki
Hingga saat ini, pemerintah kabupaten belum dapat memastikan penyebab utama dari puluhan peristiwa karhutla tersebut. Sebagian besar lokasi kebakaran berada di area yang tidak terdapat aktivitas masyarakat.
"Memang sebagian besar karhutla terjadi di lokasi yang tidak terdapat aktivitas masyarakat, sehingga proses penelusuran terhadap sumber api mengalami kendala," jelas Vera. Minimnya saksi dan akses sulit menjadi kendala dalam investigasi di lapangan.
Imbauan Kewaspadaan di Musim Kemarau
Menghadapi situasi ini, Bupati Donggala meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama kondisi kemarau masih berlangsung. Langkah preventif dinilai lebih efektif dibandingkan penanganan saat api sudah membesar.
Masyarakat diminta untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melapor jika melihat kemunculan titik api. Hal ini penting untuk mencegah kebakaran meluas yang berpotensi merusak kawasan hutan dan lahan di Kabupaten Donggala.