Pencarian

Harga Emas Antam Anjlok Rp 48.000 per Gram, Buyback Ikut Terkoreksi

Sabtu, 29 Agustus 2026 • 09:49:01 WIB
Harga Emas Antam Anjlok Rp 48.000 per Gram, Buyback Ikut Terkoreksi
Harga emas batangan Antam turun Rp 48.000 menjadi Rp 2.670.000 per gram pada perdagangan Sabtu (29/8/2026).

SULAWESI TENGAH — Harga emas batangan Antam kembali menunjukkan pergerakan fluktuatifnya. Pada perdagangan akhir pekan ini, harga jual logam mulia tersebut terkoreksi cukup dalam, sementara harga pembelian kembali (buyback) juga ikut melemah lebih besar.

Berdasarkan laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini dipatok di level Rp 2.670.000 per gram. Angka ini turun signifikan dibandingkan posisi Jumat (28/8/2026) yang masih bertengger di Rp 2.718.000 per gram. Adapun harga buyback atau nilai yang diterima konsumen saat menjual kembali emasnya ke Antam, terkoreksi Rp 55.000 menjadi Rp 2.523.000 per gram.

Sebagai pembanding, harga emas Antam sempat menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) lalu di level Rp 3.168.000 per gram. Saat itu, harga buyback berada di angka Rp 2.989.000 per gram.

Rincian Harga Emas Antam Hari Ini

Berikut rincian lengkap harga jual emas batangan Antam untuk berbagai ukuran pada perdagangan Sabtu (29/8/2026):

  • 0,5 gram: Rp 1.385.000
  • 1 gram: Rp 2.670.000
  • 2 gram: Rp 5.290.000
  • 3 gram: Rp 7.917.000
  • 5 gram: Rp 13.165.000
  • 10 gram: Rp 26.250.000
  • 25 gram: Rp 65.460.000
  • 50 gram: Rp 130.755.000
  • 100 gram: Rp 261.360.000
  • 250 gram: Rp 653.090.000 (pre-order)
  • 500 gram: Rp 1.305.900.000 (pre-order)
  • 1.000 gram: Rp 2.610.600.000 (pre-order)

Mengapa Harga Emas Dunia Terkoreksi?

Pelemahan harga emas Antam sejalan dengan koreksi harga emas dunia. Pada perdagangan Jumat (28/8/2026) waktu AS atau Sabtu pagi WIB, harga emas spot tercatat ambles 2,75% ke posisi US$ 4.474,45 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember terpangkas 3% menjadi US$ 4.524,10.

Koreksi ini dipicu pernyataan Ketua the Fed Kevin Warsh yang menegaskan bahwa inflasi belum melambat secara signifikan dan bank sentral AS masih memiliki "pekerjaan yang harus diselesaikan". Pernyataan tersebut memicu spekulasi pasar akan adanya kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan September.

"Harga emas terpukul keras setelah Ketua Warsh menegaskan bahwa inflasi tidak melambat secara signifikan dan The Fed masih memiliki 'pekerjaan yang harus diselesaikan.' Meskipun pendekatannya mungkin kembali berupa 'bicara lantang namun bertindak terbatas', hal ini membuat pasar menilai hasil pertemuan September sebagai situasi yang tidak pasti, layaknya melempar koin," ujar analis independen Tai Wong.

Dolar Menguat, Emas Meredup

Berdasarkan perangkat CME FedWatch, para pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada September mencapai 56%, melonjak dari 36% sebelum komentar Warsh. Adapun peluang kenaikan pada Desember dipatok di angka 80%.

Sentimen ini mendorong indeks dolar AS menguat ke level tertinggi dalam lebih dari satu minggu. Penguatan dolar membuat harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga menekan minat investor.

Sebelumnya, logam mulia sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan di US$ 4.696,18 pada Selasa (25/8/2026). Lonjakan itu dipicu pengumuman Departemen Keuangan AS mengenai langkah-langkah dukungan untuk obligasi berdurasi panjang. Namun, prospek suku bunga tinggi membuat emas yang tidak memberikan imbal hasil (yield) menjadi kurang diminati.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks