Banjir bandang menerjang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, dan merendam belasan rumah warga. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong langsung menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, terhitung sejak Rabu (26/8) hingga 8 September 2026.
PALU — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng), menetapkan status tanggap darurat setelah banjir bandang menerjang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara. Status ini berlaku selama 14 hari ke depan, terhitung mulai 26 Agustus hingga 8 September 2026.
Penetapan status darurat ini dilakukan setelah air sungai meluap pada Rabu (26/8) dini hari sekitar pukul 01.00 Wita. Hujan lebat yang mengguyur wilayah Parigi Moutong memicu luapan air yang membawa material lumpur dan potongan kayu hingga ke pemukiman warga.
Dampak Banjir: 12 Rumah Rusak dan Jalan Trans Sulawesi Tertimbun Lumpur
Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat, sedikitnya 12 rumah warga rusak akibat terjangan banjir bandang. Selain itu, sekitar 50 rumah terendam lumpur dan satu unit pabrik durian ikut terdampak.
Jalan Trans Sulawesi di Desa Avolua juga sempat lumpuh total. Badan jalan sepanjang kurang lebih 500 meter tertimbun sedimentasi lumpur dan gelondongan kayu, sehingga arus lalu lintas macet total.
"Arus lalu lintas sempat macet, sekarang sudah normal kendaraan sudah bisa melintas. Meski begitu kami mengimbau pengguna jalan tetap berhati-hati, karena jalan masih licin," ucap Plt Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai.
Fokus Penanganan: Pembersihan Lumpur hingga Normalisasi Sungai
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, menjelaskan masa tanggap darurat akan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana. Petugas juga akan memprioritaskan pembersihan lumpur yang mengendap di pemukiman warga serta normalisasi sungai.
Langkah cepat ini diambil karena proses pemulihan pascabanjir diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Banyak gelondongan kayu dan material lumpur yang berserakan di area permukiman dan badan jalan.
"Penanganan tanggap darurat tentunya melibatkan lintas sektor melalui kerja-kerja kolaborasi. Saat ini kurang lebih 200 personel TNI/Polri bergabung dengan tim di lapangan," kata Rivai.
Alat Berat Dikerahkan untuk Memulihkan Akses Jalan
Sejumlah alat berat saat ini terus bekerja membersihkan tumpukan lumpur dan gelondongan kayu yang tersapu banjir di jalur Trans Sulawesi. Upaya ini dilakukan untuk memastikan akses logistik dan evakuasi warga berjalan lancar.
"Tentunya di masa tanggap darurat layanan kebutuhan dasar masyarakat kami utamakan," tegas Rivai.
Pihak BPBD setempat mengimbau warga yang rumahnya masih terdampak untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan, mengingat intensitas hujan di wilayah Parigi Moutong masih cukup tinggi.