Pencarian

Honda Siapkan Strategi Triple Half: Biaya Produksi Dipangkas 50 Persen demi Mobil Terjangkau

Rabu, 26 Agustus 2026 • 12:36:31 WIB
Honda Siapkan Strategi Triple Half: Biaya Produksi Dipangkas 50 Persen demi Mobil Terjangkau
Honda Motor Company menerapkan strategi efisiensi produksi untuk menekan biaya demi menjaga daya beli masyarakat.

SULAWESI TENGAH — Tekanan biaya hidup yang meningkat membuat daya beli masyarakat terhadap kendaraan baru ikut terkoreksi. Honda meresponsnya bukan hanya dengan menekan harga jual, tetapi dengan merombak total proses efisiensi internal mereka. Dalam wawancara dengan The Drive, Noriya Kaihara, Executive Vice President Honda Motor Company, membeberkan sejumlah langkah konkret yang tengah berjalan.

“Keterjangkauan adalah kunci bagi pelanggan masa depan, terutama generasi muda,” ujar Kaihara. “Kami sedang mengerjakan berbagai proyek, termasuk aktivitas 'Triple Half'. Ini berarti waktu pengembangan kami akan dipangkas setengahnya, biaya juga harus turun setengahnya, dan sumber daya keseluruhan juga akan berkurang setengahnya. Dengan begitu, kami bisa bereaksi cepat saat kondisi pasar berubah.”

Efisiensi Ekstrem: Waktu, Biaya, dan Sumber Daya Dipangkas 50 Persen

Skema Triple Half ini mulai diterapkan tahun ini untuk program pembaruan model minor (minor model change), sementara untuk pergantian model total baru berjalan pada 2028. Selain memangkas biaya dan waktu, Honda juga menargetkan peningkatan efisiensi produksi sekitar 20 persen dalam lima tahun ke depan.

Strategi ini mencakup penyederhanaan kompleksitas manufaktur, perampingan lini produk, serta percepatan waktu peluncuran kendaraan ke pasar. Semua lini tersebut diarahkan pada satu tujuan utama: menekan harga pokok produksi agar harga jual tetap kompetitif.

AI Ambil Alih Uji Tabrak, Hemat Biaya Riset

Salah satu terobosan paling menarik adalah penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam proses pengembangan, khususnya pada uji tabrak. Uji tabrak konvensional memakan waktu lama dan biaya besar karena memerlukan prototipe fisik berulang kali.

“Kami memanfaatkan AI di sisi pengembangan, khususnya teknologi pengujian seperti uji tabrak dan sejenisnya,” tambah Kaihara. “Untuk prosedur ini, kami sudah sampai pada titik di mana kami bisa melakukannya dengan AI tanpa pengujian pendahuluan secara fisik. Ini akan berdampak besar bagi proses pengembangan.”

Penting dicatat, penggunaan AI ini bersifat tambahan (supplemental) dan tidak menggantikan uji tabrak resmi yang diwajibkan regulasi. Semakin banyak simulasi virtual yang dilakukan sebelum uji fisik, semakin sedikit waktu dan biaya yang terbuang dalam jangka panjang.

Belajar dari Pabrik Robot China, tapi Ada Batas Politik

Honda tidak menutup mata terhadap kemajuan industri otomotif China. Saat ini, tim khusus ditempatkan di Negeri Tirai Bambu untuk mempelajari teknologi manufaktur dan ilmu pengetahuan terkait, terutama di bidang robotika.

“Dalam industri otomotif, China memimpin dalam hal teknologi, saya harus akui,” kata Kaihara. “Dulu kami (Jepang) yang mengajari mereka membuat suku cadang. Sekarang, kami mengambil sebagian dari pengetahuan mereka untuk pengembangan kami sendiri, terutama robotika yang akan segera hadir.”

Namun, adopsi teknologi ini tidak bisa dilakukan secara mentah-mentah. “Kami harus berhati-hati karena ini juga masalah politik. Kami tidak bisa begitu saja menggunakan teknologi China di AS—kami tidak melakukannya. Kami harus belajar tetapi memisahkan dengan jelas antara AS dan China, artinya kami perlu mengembangkan teknologi kami sendiri,” tegasnya.

Krisis EV dan Fokus Baru ke Hybrid

Langkah efisiensi ini muncul setelah Honda mencatat kerugian finansial pertama sejak 1957, dengan defisit operasional sekitar USD 2,7 miliar. Kerugian besar ini sebagian besar disebabkan oleh pemangkasan portofolio kendaraan listrik (EV) global mereka.

Ke depan, Honda akan mengalihkan anggaran EV yang sebelumnya dialokasikan untuk mengembangkan kendaraan hybrid yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar global. Saat ini mereka tengah menggarap sistem hybrid dua-motor baru untuk model-model seperti Civic dan Acura RDX.

Makna "Terjangkau" Menurut Honda: Bukan Sekadar Murah

Eiji Fujimura, CEO American Honda, mempertegas bahwa keterjangkauan tidak selalu berarti memangkas harga hingga titik terendah. Menurutnya, nilai (value) adalah kunci utama yang harus dirasakan konsumen.

“Saya ingin menambahkan bahwa keterjangkauan bukan selalu tentang menekan biaya, tetapi juga menawarkan nilai yang besar kepada pelanggan,” ujar Fujimura. “Kuncinya di sini adalah nilai, itu sebabnya saya selalu memberi tahu para pemimpin kami untuk memikirkan peningkatan nilai uang.”

Strategi ini terlihat pada lini entry-level mereka. Civic LX dibanderol mulai USD 25.890 (sekitar Rp 414 juta), sementara Civic Sport terlaris di angka USD 28.000. Di sisi Acura, model Integra dan ADX dibanderol mulai sekitar USD 35.000. Honda percaya, kombinasi harga yang masuk akal dengan keandalan dan fitur yang ditawarkan akan menjaga loyalitas konsumen di tengah persaingan ketat.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: thedrive.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks