Perum Bulog Sulawesi Tengah mencatat realisasi serapan gabah kering giling (GKG) dari petani lokal mencapai 11 ribu ton lebih per Agustus 2026, atau 96 persen dari target 11.300 ton. Pihak Bulog optimistis capaian ini akan melampaui target seiring bertambahnya jaringan mitra penggilingan padi di wilayah sentra produksi.
PALU — Realisasi penyerapan gabah petani di Sulawesi Tengah menunjukkan tren positif. Perum Bulog mencatat volume yang masuk sejak Januari hingga Agustus 2026 sudah menyentuh angka 11 ribu ton, menyisakan kurang dari 300 ton untuk mencapai target pemerintah.
Pimpinan Wilayah Bulog Sulawesi Tengah Jusri menyatakan pihaknya yakin target akhir tahun bisa terlampaui. Optimisme ini didasari oleh masih adanya potensi panen di sejumlah kabupaten sentra padi hingga akhir tahun.
Target 11.300 Ton Hampir Tercapai, Bulog Andalkan Tujuh Mitra Gilingan
Untuk mengoptimalkan penyerapan, Bulog tidak hanya mengandalkan petani yang menjual langsung dalam bentuk gabah. Strategi kemitraan dengan penggilingan padi menjadi kunci utama.
"Saat ini di wilayah kerja kantor wilayah (kanwil) Bulog, kami memiliki tujuh mitra gilingan padi dan sebagian besar berada di Kabupaten Parigi Moutong," ujar Jusri di Palu, Senin.
Parigi Moutong memang dikenal sebagai lumbung padi utama di Sulawesi Tengah. Keberadaan mitra ini mempermudah Bulog menjangkau hasil panen petani di tingkat desa.
Harga GKG Ditetapkan Rp6.500 per Kilogram
Bulog menerapkan dua metode pembelian hasil produksi petani. Pertama, pembelian dalam bentuk gabah kering giling (GKG). Kedua, pembelian dalam bentuk beras siap konsumsi.
Kedua skema ini dinilai fleksibel mengikuti kondisi petani di lapangan. Pasalnya, tidak semua petani menjual hasil panennya dalam bentuk gabah karena berbagai faktor.
"Harga ditetapkan pemerintah Rp6.500 per kilogram. Penetapan harga tentunya mempertimbangkan keuntungan ekonomis bagi petani," kata Jusri.
Petani Belum Siap Jual Gabah, Bulog Intensifkan Sosialisasi
Tantangan utama di lapangan adalah kesiapan petani menjual dalam bentuk gabah. Untuk menjawab hal ini, Bulog memasifkan sosialisasi sekaligus memperkuat pola kemitraan dengan berbagai pihak.
Sinergi dilakukan bersama Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan penyuluh pertanian. Langkah ini diambil agar penyerapan hasil panen berjalan lebih optimal di seluruh wilayah Sulawesi Tengah.
Adapun hasil produksi yang diserap Bulog tidak hanya untuk cadangan pangan. Stok tersebut disiapkan untuk berbagai intervensi program pemerintah, seperti Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan pangan pemerintah (bapang).
"Pada intinya hasil serapan bahan pangan oleh pemerintah dikembalikan kepada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar," tambahnya.