SULAWESI TENGAH — Juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers di New York, Rabu (9/7), menyatakan kekhawatiran mendalam atas eskalasi militer di Teluk. Menurutnya, insiden dalam 24 jam terakhir berpotensi menggagalkan kemajuan diplomatik yang telah dibangun antara Washington dan Tehran.
Ancaman bagi Ekonomi Global dan Jalur Energi
Dujarric menegaskan bahwa konfrontasi terbuka tidak hanya mengancam keselamatan warga sipil di kawasan, tetapi juga stabilitas ekonomi internasional. "Kembalinya permusuhan skala penuh akan memiliki konsekuensi bencana bagi rakyat di kawasan itu dan bagi perdamaian dan keamanan internasional serta bagi komunitas global, ekonomi global secara keseluruhan," kata Dujarric.
Selat Hormuz menjadi pusat perhatian dalam eskalasi ini. Selat tersebut merupakan jalur perdagangan energi paling vital di dunia, mengangkut sebagian besar ekspor minyak dan gas alam cair global dari negara-negara produsen Teluk. Setiap gangguan di titik ini langsung berimbas pada harga energi dunia dan rantai pasok.
Seruan Gencatan Senjata dan Negosiasi Ulang
Sekjen PBB menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri secara maksimal. "Hindari tindakan eskalasi lebih lanjut, dan segera ambil langkah-langkah untuk meredakan ketegangan," ujar Dujarric mengutip pernyataan Guterres.
Guterres juga mengingatkan kewajiban semua pihak untuk mematuhi hukum internasional, terutama dalam hal perlindungan warga sipil dan infrastruktur sipil, serta penghormatan terhadap hak dan kebebasan navigasi di perairan internasional.
Diplomasi sebagai Satu-Satunya Jalan Keluar
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara Tehran dan Washington telah berakhir. Di sisi lain, Iran melancarkan serangan terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz sebagai bagian dari eskalasi terbaru.
Dalam situasi yang semakin genting ini, Sekjen PBB mendesak Iran dan AS untuk segera kembali ke meja negosiasi. "Kami tetap berkomitmen untuk mendukung semua upaya mencegah kembalinya konflik, memulihkan stabilitas, dan memajukan solusi komprehensif dan berkelanjutan untuk konflik ini," kata Dujarric.
Peringatan PBB ini menjadi sinyal bahwa komunitas internasional mulai khawatir terhadap potensi perang terbuka yang dapat mengguncang pasar energi dan keamanan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Belum ada respons resmi dari Kedutaan Besar AS maupun Perwakilan Iran di PBB terkait pernyataan Guterres hingga berita ini diturunkan.