Rupiah Melemah 14 Poin ke Rp18.074 per Dolar AS, Harga Minyak Dunia Melonjak 2 Persen

Penulis: Eko Saputro  •  Jumat, 23 Oktober 2026 | 12:46:31 WIB
Rupiah melemah 14 poin ke Rp18.074 per dolar AS seiring lonjakan harga minyak dunia.

JAKARTA — Pelemahan rupiah terjadi di tengah kenaikan tajam harga minyak mentah dunia. Brent diperdagangkan 111,40 dolar AS per barel atau naik 2,4 persen, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 2,22 persen menjadi 99,30 dolar AS per barel.

Josua Pardede menyebut lonjakan harga minyak dipicu pernyataan kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) yang mengumumkan rencana menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam.

“Harga minyak melonjak menyusul pernyataan kelompok Houthi (Ansarullah Yaman) yang mengumumkan rencana untuk menyerang infrastruktur minyak Arab Saudi di Yanbu dan Bandara Dammam,” ucap Josua kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Serangan Drone ke Ladang Minyak Shaybah Picu Kekhawatiran Pasokan

Mengutip Anadolu, harga minyak naik lebih dari 2 persen pada Kamis (22/10) setelah serangan pesawat nirawak (drone) terhadap ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco. Serangan yang menewaskan dua orang itu memicu kembali kekhawatiran soal keamanan infrastruktur energi di Timur Tengah.

Amerika Serikat memerintahkan sebagian personel dan anggota keluarga mereka meninggalkan misi diplomatik di Arab Saudi. Langkah Washington menambah kekhawatiran terkait ketegangan regional.

Ansarullah Yaman telah melancarkan empat serangan rudal dan drone terhadap Arab Saudi dalam 48 jam terakhir. Sasaran mereka meliputi Kementerian Pertahanan Arab Saudi di Riyadh, Bandara Internasional King Fahd di Dammam, fasilitas Aramco di Yanbu, serta Bandara Internasional Abha di wilayah barat daya.

Juru Bicara Militer Ansarullah Yahya Sarea mengklaim semua target "terkena secara langsung". Klaim itu mencakup gangguan lalu lintas udara dan kebakaran di fasilitas minyak tersebut.

Imbal Hasil SBN Bervariasi, Kepemilikan Asing Turun Rp3,66 Triliun

Di pasar surat berharga negara, imbal hasil obligasi pemerintah bergerak beragam pada sesi perdagangan Kamis (22/10). Tenor 5 tahun berada di level 7,25 persen atau naik 41 basis points (bps), tenor 10 tahun 7,42 persen atau turun 1 bps.

Imbal hasil tenor 15 tahun tercatat 7,38 persen atau turun 4 bps, sedangkan tenor 20 tahun 7,41 persen atau naik 1 bps. Volume perdagangan obligasi pemerintah turun menjadi Rp18,28 triliun dari Rp24,39 triliun pada sesi sebelumnya.

Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Indonesia berkurang Rp3,66 triliun menjadi Rp914 triliun per Rabu (21/10). Porsi asing kini setara 13,02 persen dari total obligasi pemerintah yang beredar.

Bagi warga di daerah, pelemahan rupiah berpotensi menambah tekanan biaya impor bahan bakar dan barang konsumsi. Pemerintah belum memberi keterangan resmi soal langkah stabilisasi lanjutan.

Reporter: Eko Saputro
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top