SULAWESI TENGAH — Kontingen Indonesia menampilkan busana bernuansa Batak dan Bali saat defile pembukaan Asian Games 2026 di Stadion Mizuho Park Athletic, Nagoya, Jepang. Atlet basket putri Dewa Ayu Made Sriartha Kusuma Dewi membawa bendera Merah Putih, sementara atlet karate Daniel Hutapea mengenakan pakaian adat Batak. Indonesia mengirim 430 atlet dengan target empat medali emas.
Stadion Mizuho Park Athletic menjadi panggung perkenalan kontingen Indonesia pada seremoni pembukaan Asian Games 2026, Sabtu (19/9). Dua atlet terpilih membawa identitas budaya Nusantara ke hadapan publik Nagoya, Jepang.
Dewa Ayu Made Sriartha Kusuma Dewi, atlet basket putri, dipercaya mengemban tugas pembawa bendera Merah Putih. Sementara Daniel Hutapea, atlet karate, tampil mengenakan pakaian bernuansa Batak mendampinginya di barisan defile.
Kombinasi dua latar budaya berbeda dalam satu barisan defile jadi pilihan simbolik kontingen. Dewa Ayu mewakili nuansa Bali lewat penampilannya sebagai pembawa bendera, sementara Daniel membawa elemen Batak lewat kostum yang dikenakannya.
Panggung Asian Games memang kerap dipakai negara peserta untuk memperkenalkan kekayaan budaya di luar arena pertandingan. Indonesia memanfaatkan momen itu untuk memamerkan keberagaman etnis yang dimiliki.
Kontingen Indonesia tidak datang sekadar untuk unjuk budaya. Sebanyak 430 atlet diberangkatkan ke Nagoya, didampingi 145 ofisial dan pelatih yang menangani persiapan di berbagai cabang.
Target yang dibebankan jelas: empat medali emas. Jumlah itu menjadi patokan keberhasilan kontingen di ajang multi-event terbesar Asia tersebut.
Pemilihan busana dan pembawa bendera bukan sekadar urusan estetika seremoni. Di ajang yang mempertemukan puluhan negara, penampilan kontingen menjadi cara memperkenalkan jati diri di luar catatan medali.
Nuansa Batak dan Bali yang ditampilkan Dewa Ayu dan Daniel menegaskan satu hal: Indonesia membawa wajah beragamnya ke panggung Asia. Perhelatan baru saja dimulai, dan seluruh mata kini tertuju pada perjuangan 430 atlet di arena.