SULAWESI TENGAH — Sejumlah layanan berlangganan dengan biaya sekitar Rp 88 ribu hingga Rp 178 ribu per bulan dapat menumpuk melewati Rp 4,8 juta setahun jika dibiarkan berjalan tanpa evaluasi. Pola yang disebut subscription creep ini membuat tagihan kecil terasa ringan secara terpisah, tetapi membebani rekening begitu jumlahnya bertambah dan pembayaran berjalan otomatis.
Lindsey Crossmier, peneliti MarketWatch Guides, menyebut angka itu kepada New York Post. Menurut dia, layanan streaming film, musik, gym, sampai aplikasi berbayar kerap memakai sistem pembayaran otomatis sehingga tagihan tetap berjalan meski pengguna sudah jarang membukanya.
Kebiasaan menganggap nominal kecil sebagai pengeluaran sepele membuat layanan yang sudah jarang dipakai tetap bertahan di daftar pembayaran. Metode set it and forget it atau autodebit memang memudahkan, tetapi juga membuat pemilik rekening lupa mengecek layanan mana yang masih aktif.
Rod Griffin, direktur senior bidang pendidikan publik dan advokasi di Experian, mengatakan tagihan bisa naik lebih cepat ketika penyedia layanan menaikkan harga saat masa berlangganan diperpanjang. Kenaikan itu sering tidak disadari karena tidak ada pemberitahuan yang dibaca.
Bernadette Joy Cruz Maulion, penulis buku Crush Your Money Goals, menyoroti sisi lain: sejumlah model bisnis memang mengandalkan konsumen yang lupa membatalkan langganan. Proses pembatalan yang berbelit membuat orang menunda, bahkan mengurungkan niat berhenti berlangganan.
Masa percobaan gratis yang terlupakan menjadi sumber biaya lain. Begitu periode berakhir, sistem perpanjangan otomatis langsung menarik dana meski layanan tidak lagi digunakan.
Karena itu, uji coba gratis yang meminta nomor kartu kredit atau nomor terdaftar di dompet digital perlu dicermati. Pengguna disarankan memasang pengingat untuk membatalkan sebelum jatuh tempo, atau menghindari layanan yang meminta data pembayaran jika memang tidak dibutuhkan.
Kimberly Palmer, pakar keuangan pribadi dari NerdWallet, menyarankan pencatatan seluruh langganan yang masih aktif, lalu membatalkan layanan yang tidak lagi memberi manfaat. Cara lain yang bisa dicoba adalah "detoks langganan": menghentikan sementara semua layanan, kemudian mengaktifkan kembali secara bertahap hanya yang benar-benar dipakai.
Untuk memudahkan pemantauan, buat daftar langganan di spreadsheet atau aplikasi pengelola keuangan. Catat biaya yang dibayarkan, waktu kenaikan harga, dan seberapa sering layanan dipakai.
Griffin menyarankan penggunaan satu kartu untuk pembayaran langganan supaya pengeluaran lebih mudah dilacak. Dengan daftar yang rapi, setiap layanan bisa dievaluasi ulang berdasarkan kebutuhan dan manfaatnya.
Janelle Sallenave, Chief Spending Officer Chime, menyarankan konsumen memeriksa adanya langganan yang fungsinya beririsan. Jika ingin mencoba layanan baru, pertimbangkan menggantikan langganan lama yang sudah tidak terlalu dibutuhkan alih-alih menambah baris pengeluaran baru.
Pemeriksaan rutin terhadap seluruh langganan dapat menemukan biaya yang tidak lagi diperlukan, termasuk layanan yang jarang dibuka atau sudah punya alternatif gratis. Langkah ini sederhana, tetapi dampaknya langsung terasa di rekening bulanan.