BIM Uji 20+ Teknologi Ekstraksi LTJ, Pilot Project di Sulawesi

Penulis: Eko Saputro  •  Jumat, 18 September 2026 | 13:03:31 WIB

SULAWESI TENGAH — Badan Industri Mineral (BIM) tengah menguji puluhan teknologi ekstraksi logam tanah jarang (LTJ) dari sekitar 21-23 negara mitra untuk mencari metode paling layak diterapkan di Indonesia. Eksplorasi berjalan di sekitar 10 lokasi, sementara fasilitas percontohan direncanakan dibangun di Sulawesi dalam waktu dekat. Pengembangan ini menjadi bagian dari mandat pemerintah kepada BUMN untuk mengolah potensi LTJ di dalam negeri.

Deputi Bidang Sistem & Tata Kelola BIM, Julian Ambassadur Shiddiq, menyampaikan hal tersebut usai menghadiri CPI Forum 2026 di Jakarta, Kamis (17/9/2026). Menurut dia, BIM tidak hanya mengeksplorasi cadangan, tetapi juga menguji teknologi yang akan dipakai untuk mengekstraksi LTJ.

Eksplorasi Berjalan di 10 Lokasi

Julian menyebut sekitar 10 lokasi saat ini tengah menjalani kegiatan eksplorasi LTJ. "Yang jelas kita saat ini sedang eksplorasi. Ada beberapa lokasi, sekitar 10 lokasi yang sekarang sedang berjalan," ujarnya kepada TAMBANG, dikutip Jumat (18/9).

Selain eksplorasi, BIM menjalankan proof of concept (PoC) terhadap sejumlah teknologi ekstraksi. Pengujian dilakukan lewat kerja sama dengan sejumlah negara mitra.

"Ada sekitar 21 atau 23 negara yang sekarang sedang bekerja sama dengan kita untuk melihat teknologinya, mana yang paling feasible untuk dikembangkan di Indonesia," jelas Julian.

Pilot Project di Mamuju Masih Dievaluasi

Tahap berikutnya adalah pembangunan fasilitas percontohan atau pilot project untuk menguji teknologi ekstraksi secara lebih konkret. Rencana awal, pilot tersebut dibangun di Mamuju, Sulawesi Barat.

Namun, lokasi pembangunan masih dalam evaluasi dengan mempertimbangkan aspek keamanan. BIM membuka kemungkinan menggeser lokasi pilot ke wilayah yang lebih dekat dengan perguruan tinggi apabila kondisi di Mamuju dinilai kurang mendukung.

"Dalam waktu dekat kita juga akan bangun pilot di Sulawesi. Jadi nanti akan kita lihat, apakah tetap di Mamuju atau kita geser ke universitas terdekat," katanya.

Bahan Baku dari Wilayah IUP Perminas

Julian menjelaskan, material yang akan digunakan dalam pengembangan LTJ berasal dari wilayah izin usaha pertambangan (IUP) yang dimiliki BIM. Kegiatan eksplorasi PT Perminas menjadi salah satu sumber bahan baku yang tengah dipersiapkan.

"Intinya IUP-nya punya kita, bahan bakunya dari Perminas," ungkap Julian.

Saat ini wilayah yang telah dikelola Perminas mencapai sekitar 7.000 hektare. Luasan tersebut masih bagian dari total wilayah yang diproyeksikan mencapai sekitar 50.000 hektare.

"Perminas itu baru dipegang 7.000 hektare. Totalnya lebih dari itu, sekitar 50.000 hektare," ujarnya.

Ketika ditanya mengenai keberadaan IUP LTJ lain di luar wilayah yang dikelola Perminas, Julian mengatakan hingga saat ini belum ada IUP lain yang masuk dalam skema tersebut. "Enggak, belum," jawabnya.

Menurut Julian, pengembangan LTJ merupakan bagian dari mandat pemerintah kepada badan usaha milik negara (BUMN). "Perintah Pak Presiden hanya untuk BUMN," pungkasnya.

Reporter: Eko Saputro
Sumber: tambang.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top