SULAWESI TENGAH — Harga Bitcoin menguat 1,05% dalam 24 jam terakhir menjadi US$ 76.442, atau setara Rp 1,35 miliar per koin, setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Kapitalisasi pasar aset kripto terbesar itu ikut naik 0,8% menjadi US$ 1,53 triliun, meski volume perdagangan justru turun tajam 21,79%.
Berdasarkan pantauan CoinMarketCap sekitar pukul 12.06 WIB, Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$ 76.400-an. Dengan kurs Rp 17.749 per dolar AS, satu koin Bitcoin setara Rp 1,35 miliar.
Kenaikan ini terjadi sehari setelah Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kali sejak Juli 2023. Keputusan diambil lewat rapat Rabu (16/9) dan berlaku efektif pada perdagangan Kamis (17/9/2026).
Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin. Keputusan itu diambil dengan suara bulat 12-0, membawa suku bunga ke kisaran 3,75-4%.
Ini menjadi kenaikan pertama sejak Juli 2023, mengakhiri periode tahan suku bunga yang panjang. The Fed juga memberi sinyal masih terbuka peluang menaikkan suku bunga lagi hingga akhir tahun demi meredam inflasi.
"Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target Komite sebesar 2% secara lebih cepat. Komite akan mewujudkan stabilitas harga," kata FOMC, dikutip dari CNBC, Kamis (17/9).
Di balik kenaikan harga, aktivitas perdagangan Bitcoin melemah. Volume transaksi dalam 24 jam terakhir tercatat US$ 30,34 miliar, turun 21,79% dibanding periode sebelumnya.
Penurunan volume ini mengindikasikan kenaikan harga lebih didorong posisi beli yang bertahan ketimbang lonjakan minat baru. Pasar cenderung menunggu arah kebijakan The Fed selanjutnya sebelum mengambil posisi lebih agresif.
Jumlah Bitcoin yang beredar saat ini sekitar 20,08 juta BTC. Angka itu mendekati batas maksimum yang ditetapkan protokol Bitcoin, yakni 21 juta BTC.
Sisa sekitar 920.000 BTC yang belum ditambang menjadi faktor kelangkaan jangka panjang. Mekanisme halving yang memangkas imbalan penambang secara berkala turut membatasi laju pasokan baru ke pasar.
Bagi investor Indonesia, penguatan Bitcoin terjadi di tengah tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Kenaikan harga aset dalam denominasi dolar otomatis mengerek nilai portofolio kripto saat dikonversi ke rupiah.
Namun, pelaku pasar perlu mencermati arah kebijakan suku bunga lanjutan. Sinyal kenaikan tambahan hingga akhir tahun berpotensi menekan aset berisiko, termasuk kripto, jika imbal hasil instrumen pendapatan tetap menjadi lebih menarik.
Kapitalisasi pasar Bitcoin yang mencapai US$ 1,53 triliun menegaskan posisinya sebagai aset kripto dominan. Pergerakannya masih menjadi acuan utama bagi arah pasar kripto global, termasuk altcoin dan token lain yang diperdagangkan di bursa dalam negeri.