PALU — Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menyebut Sulawesi Tengah tidak lagi sekadar daerah penyimpan kekayaan sumber daya alam. Dalam sambutannya pada pelantikan dan pengukuhan Kadin Sulawesi Tengah periode 2026–2031, ia menilai daerah itu telah menjadi salah satu titik penting masa depan perekonomian nasional.
Menurut Anindya, Sulteng memiliki modal ekonomi besar, mulai dari kawasan industri, pertanian, perkebunan, hingga komoditas hortikultura seperti durian. Potensi itu harus diubah menjadi kekuatan ekonomi yang menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat dan daerah.
Anindya melihat posisi Sulteng dalam perekonomian nasional terus berubah. Sumber daya dan potensi industri yang dimiliki dapat menjadi mesin pertumbuhan baru Indonesia.
Namun, kekayaan tersebut tidak cukup hanya dimiliki. Tantangannya adalah mengembangkan modal yang tersedia menjadi kapital produktif, menciptakan usaha, membuka lapangan pekerjaan, dan memperkuat pelaku UMKM.
"Modal harus ditingkatkan. Modal menjadi kapital yang bisa dimanfaatkan dan berguna," kata Anindya.
Karena itu, Kadin Sulteng didorong tidak berjalan sendiri. Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menjadi bagian penting agar potensi ekonomi daerah bergerak lebih cepat dan berdampak lebih luas.
Anindya menyebut setidaknya ada tiga kelompok yang harus merasakan manfaat keberadaan Kadin: UMKM, pencari kerja, dan dunia usaha. Ketiganya mesti terhubung dalam satu ekosistem ekonomi.
Ketika investasi tumbuh, dampaknya tidak boleh berhenti pada perusahaan besar. Pertumbuhan investasi harus menciptakan ruang bagi UMKM, membuka lapangan pekerjaan, dan menghasilkan perputaran ekonomi baru.
"Kalau kita melakukan satu hal, dampaknya bisa ke dua dan tiga. Gayung bersambut," ujarnya.
Di tengah besarnya tantangan tersebut, Anindya memberi perhatian khusus pada soliditas internal Kadin Sulteng. Ia mengaku bangga melihat kekompakan jajaran pengurus, termasuk hubungan antara ketua umum dan para mantan ketua umum.
"Ketua umum dan mantan-mantan ketua umum bisa kompak. Ini patut diapresiasi," ujarnya.
Pesannya, energi organisasi jangan habis untuk konflik internal. Kekompakan harus dikonversi menjadi kekuatan untuk membangun dunia usaha dan ekonomi daerah.
Kadin, lanjut Anindya, mesti hadir di tengah kebutuhan konkret masyarakat. Bukan hanya berbicara soal perusahaan besar dan investasi, tetapi juga memastikan UMKM mendapat manfaat dan masyarakat memperoleh kesempatan kerja.