Pemerintah Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, memperkuat intervensi pendidikan nonformal dengan menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah bagi anak tidak sekolah (ATS) di daerah tersebut. Langkah ini menyusul hasil validasi yang menemukan 3.000 anak belum mengakses pendidikan, dengan keterbatasan ekonomi hingga pernikahan dini sebagai penyebab utama.
BUOL — Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Buol masih melakukan proses validasi terhadap anak-anak yang belum mengakses pendidikan. Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Buol, Anita, mengatakan validasi melibatkan Dinas Dukcapil serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, termasuk setiap operator di desa.
"Untuk proses validasi sudah menemukan 3.000 anak diverifikasi dengan melibatkan Dinas Dukcapil serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa termasuk setiap operator di setiap desa," kata Anita di Buol, Minggu.
Hasil verifikasi lapangan menunjukkan anak putus sekolah di Buol disebabkan sejumlah faktor. Keterbatasan ekonomi menjadi salah satu pemicu terbesar, disusul perundungan, jarak tempuh ke sekolah yang jauh, dan pernikahan dini.
Pemerintah daerah telah menjalankan program pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang pendidikan selama tiga tahun terakhir untuk menekan angka ATS.
"Jadi intervensi ini meliputi pembagian bantuan alat tulis, seragam, tas, dan sepatu bagi siswa tidak mampu," ucapnya.
Bagi anak yang sudah lama berhenti dari sekolah formal, pemerintah daerah mengarahkan mereka melanjutkan pendidikan melalui jalur nonformal. Fasilitas yang disiapkan berupa pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) setempat.
Anita menekankan penanganan ATS memerlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, pihak sekolah, hingga orang tua. Tujuannya agar seluruh anak di Kabupaten Buol mendapatkan hak pendidikan dasar yang layak.
"Tentunya penanganan ATS diperlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, pihak sekolah, hingga orang tua sehingga seluruh anak di Kabupaten Buol mendapatkan hak pendidikan dasar yang layak," katanya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Buol mencatat jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 158 unit dengan 1.621 guru. Sementara itu, sekolah menengah pertama (SMP) tercatat 64 unit dengan 954 guru.
Penyaluran bantuan perlengkapan sekolah menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah menjangkau anak-anak yang selama ini tertinggal dari sistem pendidikan formal. Proses validasi masih berlanjut untuk memastikan data penerima bantuan tepat sasaran.