Pemerintah Kota Palu mencatat 322 kejadian kebakaran sepanjang Januari hingga awal September 2026, dengan lonjakan paling tajam terjadi pada Agustus sebanyak 88 kejadian. Data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Palu itu mendorong rekomendasi evaluasi terpadu untuk mengidentifikasi pemicu lonjakan sebelum puncak musim kering berikutnya.
PALU — Staf Ahli Wali Kota Bidang Infrastruktur dan Lingkungan Moh. Fahri menyampaikan angka tersebut di Palu, Rabu, berdasarkan data resmi Damkar Kota Palu. Sepanjang awal tahun, tren kebakaran bergerak fluktuatif dengan 25 kejadian pada Januari dan 37 kejadian pada Februari.
Memasuki Maret hingga Juli, frekuensi kebakaran berada di rentang 26 sampai 40 kasus per bulan. Angka itu melonjak drastis pada Agustus dengan 88 kejadian dalam satu bulan.
Fahri menilai lonjakan tersebut memerlukan evaluasi terpadu untuk mengidentifikasi pemicu utama. Sejumlah faktor yang perlu ditelusuri antara lain cuaca ekstrem dan kekeringan, meningkatnya aktivitas pembakaran sampah secara terbuka, serta kondisi vegetasi lahan yang mengering.
Pihaknya telah merekomendasikan kepada Wali Kota Palu agar memerintahkan evaluasi khusus atas lonjakan Agustus. Langkah itu dinilai penting agar kebijakan pencegahan dan penanganan risiko darurat dapat diterapkan secara akurat dan tepat sasaran sebelum memasuki puncak musim kering berikutnya.
"Ke depan, data bencana kebakaran tidak boleh sekadar menjadi laporan operasional tahunan rutin, melainkan harus dipakai sebagai bukti kuat dalam merencanakan pembangunan serta pengalokasian anggaran daerah," kata Fahri.
Menyikapi kondisi cuaca panas ekstrem saat ini, Pemkot Palu mengimbau masyarakat menggunakan masker saat keluar rumah. Warga juga diminta tidak membakar sampah, menyiram halaman kantor dan rumah, serta selalu waspada terhadap kondisi terkini di Kota Palu.
Rekomendasi evaluasi khusus tersebut menjadi dasar bagi Pemkot Palu untuk menyusun langkah pencegahan yang lebih terukur pada periode musim kering mendatang.