Stasiun Geofisika Kelas I Palu kembali menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi potensi bencana yang tidak bisa diprediksi. Program prioritas nasional BMKG yang berjalan lima hingga enam tahun ini menekankan pemahaman teknis mitigasi secara mandiri kepada warga dan pemerintah daerah.
SIGI — BMKG menilai edukasi kebencanaan yang berkesinambungan menjadi kunci menekan risiko korban jiwa di daerah rawan gempa. Kabupaten Sigi, yang berada di Sulawesi Tengah, masuk kategori wilayah dengan kerentanan tinggi terhadap guncangan tektonik.
Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu Djati Cipto Kuncoro mengungkapkan, SLG menjadi program prioritas nasional yang sudah berjalan sekitar lima sampai enam tahun. Inisiatif ini lahir dari kesadaran bahwa gempa bumi tidak pernah bisa diprediksi secara pasti waktu kejadiannya.
"Jadi memang kita tidak pernah tahu gempa bumi itu akan terjadi di pagi, siang, atau malam hari. Sehingga harapannya ada kesiapsiagaan masyarakat, baik sebelum, saat, maupun setelah terjadi bencana gempa bumi," ujar Djati di Sigi, Selasa (19/11/2024).
Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan SLG yang menyasar aparatur desa, tokoh masyarakat, serta relawan kebencanaan di Kabupaten Sigi. Mereka dibekali cara membaca potensi bahaya, simulasi evakuasi, hingga pemahaman struktur bangunan tahan gempa.
Djati menegaskan bahwa edukasi kebencanaan tidak boleh berhenti pada satu kali pelatihan. BMKG berharap seluruh lapisan masyarakat di Kabupaten Sigi semakin siap dan tanggap terhadap ancaman gempa.
Dengan kesiapsiagaan yang matang, risiko korban jiwa maupun kerugian material saat bencana terjadi dapat diminimalkan. Langkah ini dinilai krusial mengingat posisi geografis Sigi yang berada di jalur sesar aktif.