Aturan Keuangan Liga Inggris Dikritik: Villa Terbelenggu, Spurs Bebas Boros Rp 6,5 Triliun

Penulis: Andi Pratama  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 16:32:31 WIB
Aston Villa terpaksa melepas sejumlah pemain inti meski sukses di Liga Champions, sementara Tottenham Hotspur agresif berbelanja di bursa transfer.

SULAWESI TENGAH — Paradoks mencolok terjadi di Premier League musim panas ini. Aston Villa, yang musim lalu menjuarai Europa League dan finis di empat besar, justru terpaksa melepas pemain bintangnya. Di sisi lain, Tottenham Hotspur yang nyaris terdegradasi ke Championship, tampil agresif di bursa transfer dengan belanja mencapai £322 juta atau sekitar Rp 6,5 triliun.

Perbedaan nasib kedua klub ini mencuatkan kembali kritik terhadap aturan profitabilitas dan keberlanjutan (PSR) serta rasio biaya skuad (SCR) yang diterapkan Premier League dan UEFA. Regulasi yang awalnya dirancang untuk mengurangi utang klub Eropa ini disebut hanya menjadi alat bagi klub kaya untuk semakin mengukuhkan dominasi mereka.

Dilema Aston Villa: Sukses di Lapangan, Terjepit di Meja Negosiasi

Setelah musim impresif, para penggemar Villa seharusnya menantikan petualangan di Liga Champions. Namun, kenyataannya mereka justru menyaksikan skuad inti mulai dibongkar. Morgan Rogers, Ezri Konsa, dan Youri Tielemans menjadi nama-nama pertama yang hengkang. Kiper andalan Emiliano Martínez juga disepakati pindah ke Chelsea dengan nilai £7,5 juta, dan Ollie Watkins dikabarkan menyusul.

Kondisi ini terasa pahit bagi pendukung Villa. Dalam lima musim terakhir, net spend Villa di bursa transfer hanya £3 juta, terendah kedua di Premier League. Hanya Brighton yang lebih hemat. Padahal, Villa secara konsisten finis di atas Tottenham dalam empat musim beruntun.

Mantan pemain Villa, Gabby Agbonlahor, menyuarakan kegelisahan para penggemar. "Bagaimana bisa penggemar Aston Villa bermimpi untuk mengangkat trofi Premier League di masa hidup saya?" ujarnya.

Kekayaan Pemilik Tak Lagi Menjadi Jaminan

Pemilik Villa, Nassef Sawiris dan Wes Edens, adalah miliarder dengan kekayaan berlimpah. Namun, mereka tak bisa lagi meniru gaya Chelsea era Roman Abramovich atau Manchester City era Sheikh Mansour yang bebas mengucurkan dana. Regulasi PSR dan SCR membatasi kerugian klub hingga £105 juta dalam tiga tahun dan membatasi belanja skuad maksimal 70 persen dari pendapatan klub.

Akibatnya, klub seperti Villa yang pendapatannya lebih kecil dari Spurs, memiliki ruang gerak yang jauh lebih sempit. Mereka harus menjual aset berharga untuk bisa membeli pemain baru, sementara klub dengan pemasukan besar bisa terus menambah amunisi.

Kontras Tottenham: Dari Ancaman Degradasi ke Belanja Besar

Tottenham, yang finis di peringkat 17 dan kehilangan pendapatan sekitar £35 juta lebih sedikit dari Villa, justru tampil perkasa di bursa transfer. Mereka bahkan berkomitmen membayar £55 juta untuk mengontrak permanen Omar Marmoush dari Manchester City. Keberhasilan komersial klub di stadion baru mereka, Tottenham Hotspur Stadium, menjadi kunci utama kekuatan finansial ini.

Daniel Levy, sosok yang kerap dikritik sebagai manajer klub, kini dipandang sebagai arsitek di balik transformasi Spurs menjadi grup hiburan multi-fungsi. Pendapatan komersial yang besar inilah yang kemudian memberi mereka kebebasan finansial untuk bersaing di pasar transfer, sebuah kemewahan yang tidak dimiliki klub sekaliber Aston Villa.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: theguardian.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top