Banjir bandang menerjang Desa Avolua, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Rabu dinihari dan merusak belasan rumah warga. BPBD setempat mencatat sedikitnya 12 unit rumah rusak, sementara puluhan lainnya terendam material lumpur akibat luapan air sungai.
PALU — Banjir bandang yang melanda Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong pada Rabu (dini hari) memaksa 12 kepala keluarga mengungsi. Rumah mereka dilaporkan rusak dan tertimbun lumpur setelah air sungai meluap ke pemukiman.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 01.00 Wita. Hujan dengan intensitas tinggi memicu meluapnya sungai hingga air masuk ke rumah warga dan menutupi badan jalan.
Luapan air membawa material lumpur yang menutupi ruas Jalan Trans Sulawesi di Desa Avolua sepanjang kurang lebih 500 meter. Akibatnya, arus lalu lintas di jalur utama tersebut sempat mengalami kemacetan.
Petugas gabungan dari BPBD, TNI/Polri, aparat desa, dan warga setempat terus berupaya melakukan penanggulangan darurat. "Saat ini sekitar 12 KK terpaksa mengungsi karena rumah mereka rusak dan tertimbun lumpur," ujar Rivai saat dihubungi dari Palu, Rabu.
Hasil asesmen cepat tim reaksi cepat (TRC) BPBD Parigi Moutong mencatat total 68 kepala keluarga atau sekitar 103 jiwa terdampak banjir bandang ini. Selain 12 rumah yang rusak, sebanyak 50 rumah warga lainnya terendam material lumpur.
Bencana ini juga merusak pagar pabrik durian di sekitar lokasi. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Rivai menambahkan, data yang disajikan saat ini masih bersifat sementara dan dapat berubah sesuai perkembangan di lapangan.
Pemerintah daerah disebutkan tengah menyiapkan penanganan lanjutan berdasarkan kebutuhan mendesak warga. Kebutuhan yang diprioritaskan meliputi air bersih, logistik makanan siap saji, dan tenda pengungsian.
Selain itu, normalisasi sungai dan pembersihan rumah-rumah warga yang tergenang lumpur juga menjadi agenda utama. TRC terus melakukan pendataan fasilitas umum, lahan pertanian, perikanan, serta warga terdampak bencana hidrometeorologi ini.
Rivai menyampaikan, penanganan di lapangan tidak menutup kemungkinan akan melibatkan relawan yang ikut membantu proses evakuasi dan pembersihan.