Siswa SD di Tojo Una-Una Rasakan Manfaat Program MBG, dari Energi Belajar hingga Edukasi Gizi

Penulis: Budi Santoso  •  Minggu, 23 Agustus 2026 | 15:23:02 WIB
Siswa SDN 1 Ratolindo menerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah.

AMPANA — Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, membawa perubahan nyata bagi siswa sekolah dasar. Manfaatnya bukan hanya soal ketersediaan makanan di sekolah, tetapi juga berdampak pada kesiapan belajar dan kebiasaan makan anak.

Gayatri Kalyani Taha dari SDN 1 Ratolindo mengaku program ini meringankan kekhawatiran orang tuanya. Ia tidak lagi membawa bekal atau uang jajan ke sekolah.

“Orang tua saya sudah tidak perlu khawatir lagi kalau kami kelaparan di sekolah karena sudah ada program Makan Bergizi Gratis yang diberikan kepada kami,” ujarnya.

Anak Mulai Paham Kandungan Gizi

Hal serupa dirasakan Andi Arkan Raffi dari SD IT Al-Wahdah Tojo Una-Una. Sejak MBG berjalan, ia mengaku jarang membawa uang jajan. Yang lebih penting, ia mulai memahami fungsi setiap jenis makanan.

“Dulu saya berpikir makan hanya untuk menghilangkan rasa lapar. Sekarang saya sudah paham bahwa makanan itu banyak manfaat gizinya. Saya mulai terbiasa menyantap sayur dan buah yang sebelumnya kurang suka,” kata Raffi.

Ia menyebut nasi sebagai sumber karbohidrat, daging sebagai protein, sayur sebagai sumber vitamin, dan buah sebagai sumber serat. Pemahaman ini membuatnya lebih selektif dalam memilih makanan.

MBG Bantu Siswa Lebih Fokus Belajar

Muhammad Rizat Wikaldi dari SDN 1 Ampana Kota menilai program ini berpengaruh pada konsentrasi siswa. Sebelumnya, ia kerap melihat teman-temannya kurang fokus karena belum sarapan.

“Setelah kami mendapatkan program ini, saya melihat teman-teman menjadi lebih berenergi dan lebih fokus,” tutur Rizat.

Meski begitu, Rizat mengingatkan bahwa asupan gizi bukan satu-satunya penentu prestasi. Kemauan belajar dan dukungan orang tua tetap menjadi faktor utama.

Masukan Siswa: Variasi Menu dan Ketepatan Waktu

Selain manfaat, para siswa juga menyampaikan sejumlah catatan untuk perbaikan MBG. Mereka berharap menu yang disajikan lebih bervariasi dan disesuaikan dengan selera anak tanpa mengurangi kandungan gizi.

Rizat menyoroti pentingnya ketepatan waktu distribusi agar makanan tetap hangat dan segar saat dikonsumsi. Ia juga meminta adanya edukasi sederhana mengenai kandungan makanan yang mereka santap.

Soal sisa makanan juga menjadi perhatian. Gayatri mengaku sedih melihat makanan terbuang, mengingat ada tenaga petugas dapur di balik setiap porsi yang disajikan. Raffi pun masih menemukan teman-temannya yang tidak menghabiskan makanan karena soal selera.

Menurut mereka, variasi menu perlu diimbangi pembiasaan menghargai makanan dan mengurangi pemborosan.

Manfaat Hingga ke Rumah

Bagi sebagian keluarga, dampak MBG bahkan terasa di luar lingkungan sekolah. Rizat menceritakan ada siswa yang menyisihkan sebagian makanannya untuk dibawa pulang dan disantap kembali di rumah.

Ketiga siswa berharap program ini terus dilanjutkan dengan perbaikan berkelanjutan. Mereka juga mendorong pembangunan dapur pelayanan di wilayah terpencil agar jangkauan manfaatnya lebih luas.

“Saya ingin MBG ini berkembang lebih baik setiap harinya, menunya lebih bervariasi, dan pemerintah mau menerima masukan. Bangun juga dapur-dapur di daerah terpencil agar anak-anak di sana dapat merasakan manfaat Makan Bergizi Gratis,” tutup Rizat.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: metapos.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top