PALU — Ancaman karhutla di Sulawesi Tengah meningkat tajam pada puncak musim kemarau tahun ini. Data pemantauan satelit Terra/Aqua NASA yang diolah sistem SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat 1.007 titik panas (hotspot) di provinsi ini sepanjang 1 Januari hingga 15 Juni 2026.
Jumlah tersebut melonjak 205 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang hanya mencatat 330 titik panas. Lonjakan ini menempatkan Sulawesi Tengah dalam jajaran 10 besar provinsi dengan titik panas terbanyak secara nasional, dengan sebaran mencapai 263 titik dalam kurun waktu 24 jam.
Kabupaten Tojo Una-Una menjadi wilayah dengan risiko tertinggi. Kebakaran melanda kawasan Gunung Kalendang, Desa Balinggara, pada 17 Agustus 2026 dan menghanguskan sekitar 20 hektare lahan. Api merembet dari lahan warga dan memperparah kondisi setelah area yang sama juga terbakar pada 30 Juli 2026.
Bupati Tojo Una-Una akhirnya menetapkan status Siaga Darurat Bencana Karhutla melalui Keputusan Nomor 100.3.3.2/20/BPBD/2026. Penetapan ini merujuk pada parameter Fire Danger Rating System (FDRS) dari Stasiun Meteorologi Kelas I Mutiara Sis Al-Jufri Palu yang menunjukkan tingkat bahaya kebakaran yang mengkhawatirkan.
Data NASA FIRMS menunjukkan kejadian karhutla dalam sepekan terakhir tidak hanya terjadi di Tojo Una-Una. Wilayah lain yang turut terdampak meliputi Morowali, Banggai, Poso, Banggai Kepulauan, Buol, hingga Tolitoli.
Luas areal terbakar yang mencapai 2.222,24 hektare tersebut tujuh kali lipat lebih besar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla di Sulawesi Tengah membutuhkan penguatan mitigasi berbasis masyarakat, bukan hanya respons saat api sudah membesar.
Status siaga darurat yang ditetapkan di Tojo Una-Una membuka akses bagi mobilisasi sumber daya penanganan bencana secara lebih cepat. Langkah ini menjadi preseden bagi kabupaten lain di Sulawesi Tengah yang berada dalam kategori rawan kebakaran untuk melakukan langkah serupa sebelum kerugian semakin meluas.