SULAWESI TENGAH — Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, melaporkan titik api pada koordinat -2,2314428, 114.35173405 itu memunculkan kepulan asap pekat. Kondisi ini mempersempit jarak pandang tim pemadam sekaligus memperlambat upaya pengendalian api di lokasi yang berada di pedalaman tersebut.
"Kobaran api di titik yang berada pada koordinat -2,2314428, 114.35173405 itu memunculkan kepulan asap pekat. Kondisi tersebut membuat jarak pandang tim pemadam semakin terbatas sekaligus menyulitkan upaya pengendalian api," ujar Pangeran, Sabtu (22/8).
Tantangan terbesar bagi petugas bukan hanya berasal dari api. Akses darat yang minim memaksa tim menggunakan perahu ces untuk menyusuri jalur sungai menuju lokasi kebakaran. Perjalanan pun harus berpacu dengan waktu sebelum debit air sungai kembali surut.
"Akses darat yang terbatas membuat tim harus menggunakan perahu ces untuk menembus jalur sungai menuju lokasi kebakaran. Perjalanan pun harus menyesuaikan kondisi air karena petugas berpacu dengan waktu sebelum debit sungai kembali surut," kata dia.
Kondisi pasang surut sungai menjadi faktor krusial yang menentukan apakah perahu dapat melintas. Selain itu, asap tebal yang menutup pandangan memaksa petugas bergerak ekstra hati-hati di sekitar titik api.
Keterbatasan jaringan komunikasi membuat pelaporan dari lokasi kejadian berjalan tidak mudah. Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Kapuas hanya bisa mengandalkan koordinasi dengan posko terdepan untuk mendapatkan perkembangan terbaru dari lapangan.
Pangeran menegaskan status api di titik kedua Katunjung belum aman dan belum bisa dinyatakan terkendali. Pergerakan api dilaporkan terus meluas, memaksa tim bekerja ekstra keras mencegah kobaran menjalar ke area lain.
"Status api di Katunjung koordinat kedua ini belum dapat dikendalikan, pergerakan api meluas dengan kepulan asap tebal. Kendala utama tetap pada ketiadaan sinyal komunikasi, jarak pandang yang terbatas, serta ketergantungan akses pada perahu ces dan air pasang," ujar Pangeran.
Sebanyak sembilan personel dikerahkan untuk menangani titik api tersebut. Mereka terdiri dari tiga personel Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Kapuas Kahayan dan enam personel Masyarakat Peduli Api (MPA) binaan.
Karhutla di Kapuas kali ini terjadi sejak Jumat (21/8) dan hingga pagi ini belum menunjukkan tanda-tanda melandai. Kondisi lahan gambut yang mudah terbakar serta angin yang membawa asap memperberat kerja tim di lapangan.