Pemkot Palu memastikan harga beras di dua pasar tradisional, Pasar Inpres Manusia dan Pasar Masomba, masih berada di kisaran Rp 13 ribu hingga Rp 17 ribu per kilogram. Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhiddin mengaku daya beli masyarakat menjadi tantangan yang lebih besar dibandingkan ketersediaan stok.
PALU — Hasil inspeksi mendadak (sidak) yang dilakukan Pemkot Palu pada Jumat pekan ini menunjukkan harga beras di tingkat pedagang masih bervariasi. Variasi harga tersebut dipengaruhi oleh jenis dan varietas beras yang dijual, namun secara umum masih berada dalam rentang yang terjangkau.
Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhiddin mengatakan, rentang harga termurah yang ditemukan di lapangan adalah Rp 13 ribu per kilogram. Sementara untuk kualitas premium, pedagang membanderol hingga Rp 17 ribu per kilogram.
Sidak ini digelar setelah pemerintah menerima laporan dari masyarakat mengenai melemahnya daya beli terhadap komoditas pangan pokok. Pemkot tidak ingin harga yang melonjak semakin memberatkan warga, sehingga pemantauan langsung ke pedagang dinilai perlu dilakukan.
"Dua pasar yang kami kunjungi harga beras berbeda. Harga paling tinggi di kisaran Rp17 ribu per kilogram, sedangkan harga paling rendah di kisaran Rp13 ribu hingga Rp15 ribu," ujar Imelda dalam keterangannya yang dikutip Antara.
Hasil sidak tersebut berujung pada instruksi tegas kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Palu. Imelda meminta jajaran dinas untuk memasifkan pengecekan harga di lapangan agar harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah dapat diterapkan dengan baik oleh para pedagang.
Selain itu, Satuan Tugas (Satgas) Pangan juga diminta untuk melakukan pemantauan harga bahan pokok secara rutin setiap pekan. Langkah ini ditempuh agar perkembangan harga dan kondisi pasokan beras di ibu kota Sulawesi Tengah terus terkendali.
Imelda mengingatkan para pelaku usaha untuk tidak bermain spekulasi di tengah kondisi ekonomi yang sedang berupaya pulih. Praktik menimbun barang atau bahan pangan demi meraup untung besar akan berujung pada sanksi.
"Kami mengingatkan distributor dan pedagang jangan menimbun barang atau bahan pangan untuk kepentingan meraup untung besar. Berdagang harus jujur dan tidak boleh menaikkan harga secara sepihak," tegasnya.
Sebagai langkah konkret meringankan beban warga, Pemkot Palu menjadwalkan penyaluran bantuan beras dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada pekan depan. Intervensi ini diharapkan mampu menahan laju inflasi sekaligus menjaga stabilitas harga pangan.
Bantuan tersebut menyasar sekitar 31 ribu kepala keluarga (KK) penerima manfaat yang masuk dalam kelompok desil lima ke bawah. Setiap penerima akan mendapatkan alokasi beras sebanyak 30 kilogram.
"Kami berharap lewat intervensi itu dapat memperkuat stabilitas harga pangan di Kota Palu," kata Imelda menambahkan.