Rapat Paripurna HUT Jabar ke-81 di Gedung Sate Bandung, Warga Soroti Nasib Maestro Seni dan Transportasi Umum

Penulis: Andi Pratama  •  Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:54:31 WIB
Rapat Paripurna HUT ke-81 Jawa Barat digelar di Gedung Sate, Bandung, pada hari ini.

SULAWESI TENGAH — Perayaan ulang tahun daerah biasanya identik dengan potong tumpeng dan atraksi budaya. Namun, di balik kemeriahan HUT ke-81 Jawa Barat, publik yang hadir di Gedung Sate memanfaatkan momen ini untuk menyampaikan catatan kritis. Mereka tidak ingin perayaan berhenti pada seremoni, melainkan menjadi titik tolak perbaikan kebijakan yang menyentuh kebutuhan harian.

Maestro Seni dan Nasib Warisan Budaya Takbenda

Sorotan pertama datang dari Ketua DPRD Jawa Barat, Dr. H. Buky Wibawa Karya Guna, M.Si. Ia menyoroti kesejahteraan para pelaku seni, khususnya maestro yang usianya sudah lanjut. Menurutnya, pemerintah hadir untuk memastikan para maestro tidak kesulitan mencari penghidupan di usia senja.

"Sudah saatnya pemerintah hadir untuk memperhatikan para maestro seni budaya. Jangan sampai di usia tua mereka masih tertatih-tatih mencari rezeki," ujar Buky dalam rapat paripurna.

Provinsi ini tercatat memiliki lebih dari 100 produk warisan budaya takbenda yang didaftarkan bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Kekayaan ini dinilai sia-sia jika regenerasi tidak berjalan karena para pewarisnya tidak sejahtera.

Kekhawatiran serupa diungkapkan Andhara Raditta (21). Generasi muda kini lebih akrab dengan media sosial dibanding kesenian tradisional. Ia menilai ruang digital justru bisa menjadi panggung baru untuk melestarikan budaya.

"Kalau budaya tidak dikenalkan dan diberikan ruang kepada generasi muda, lama-lama bisa semakin jauh dari kehidupan sehari-hari," kata Andhara.

Transportasi Umum: Pekerjaan Rumah di Tengah Kemacetan

Selain budaya, Andhara juga menyoroti persoalan transportasi publik. Volume kendaraan di Bandung dinilai sudah sangat tinggi, terutama saat akhir pekan. Kondisi ini membuat mobilitas warga tidak efisien.

"Kalau dilihat dari volume kendaraan di Bandung itu cukup banyak, apalagi kalau misalnya weekend itu kadang suka macet," ujarnya.

Andhara berharap pemerintah memperkuat layanan bus dan kereta, serta memperluas jangkauan ke wilayah yang minim akses. Namun, perbaikan infrastruktur saja tidak cukup. Perlu ada dorongan agar masyarakat mau beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Pendidikan dan Infrastruktur: Fondasi yang Harus Dibenahi

Zahra Syakira (20) menilai tiga sektor menjadi fondasi pembangunan Jawa Barat: pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Menurutnya, kualitas pendidikan menentukan masa depan anak bangsa.

"Yang harus dibenahi, lagi-lagi pastinya pendidikan karena itu tiang. Pendidikan itu benar-benar menciptakan anak bangsa," ujar Zahra.

Ia juga berharap akses layanan kesehatan semakin mudah dijangkau. Pembangunan infrastruktur pun harus merata, tidak hanya terpusat di kawasan tertentu. Manfaatnya harus dirasakan hingga ke pelosok daerah.

Zahra mengapresiasi rapat paripurna yang terbuka untuk umum. Namun, ia menilai keterlibatan publik masih sekadar menjadi penonton. Masyarakat seharusnya dilibatkan sejak tahap awal perencanaan, bukan hanya hadir saat perayaan.

Di usia 81 tahun, pekerjaan rumah Jawa Barat masih panjang. Pelestarian budaya, pemerataan pendidikan, dan perbaikan transportasi menjadi ukuran nyata kemajuan daerah—bukan sekadar kemeriahan pesta ulang tahun. Bagi warga, kebijakan yang menjawab kebutuhan harian adalah hadiah terbaik yang bisa diberikan pemerintah.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: koranmandala.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top