SULAWESI TENGAH — VinFast sedang membangun salah satu ekosistem kendaraan listrik paling ambisius di Asia Tenggara. Pabrik perakitan di Subang, Jawa Barat, yang beroperasi sejak Desember tahun lalu berdiri di atas lahan 171 hektare dengan investasi fase pertama USD 300 juta—setara Rp 5,34 triliun. Jika seluruh fase rampung, total komitmen investasi menembus USD 1 miliar atau sekitar Rp 17,8 triliun, dengan kapasitas produksi hingga 350 ribu unit per tahun.
Di sisi lain, infrastruktur pengisian daya juga digarap besar-besaran. Melalui V-Green, VinFast menggandeng Prime Group asal Uni Emirat Arab untuk membangun 100 ribu titik charging dalam tiga tahun—proyek senilai USD 1,2 miliar (Rp 21,36 triliun) yang konstruksinya sudah berjalan sejak Januari 2025.
Namun, data penjualan berkata lain. Sepanjang Januari–Juni 2026, wholesales VinFast hanya 1.934 unit, dan retailnya lebih kecil lagi: 1.708 unit. Kalau disetahunkan, angka itu sekitar 3.868 unit—baru 7,7 persen dari kapasitas produksi awal pabriknya sendiri.
Kapasitas produksi 50 ribu unit per tahun di fase pertama adalah target yang realistis untuk pasar Indonesia—tapi butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapainya. Bandingkan dengan kompetitor langsungnya: BYD, yang pada bulan yang sama mencatatkan penjualan 6.560 unit, tidak memiliki pabrik sebesar itu di Indonesia. VinFast justru membangun kapasitas produksi jauh sebelum permintaan terbentuk.
Ini bukan berarti strategi VinFast keliru total. Membangun ekosistem lebih dulu memang cara yang dipilih banyak pemain EV global untuk mengatasi chicken-and-egg