PALU — Perum Bulog Wilayah Sulawesi Tengah mencatat lonjakan serapan beras dari petani lokal. Hingga Mei 2026, total yang terkumpul mencapai 8.700 ton, setara capaian penuh tahun lalu. Target pengadaan 11.300 ton dinilai bakal terlampaui lebih cepat dari jadwal.
Pimpinan Wilayah Bulog Sulawesi Tengah, Jusri, di Palu, Minggu, menyebut pencapaian ini buah kolaborasi solid antara petani dan mitra penggilingan. Konsistensi petani dalam menjaga kualitas serta kuantitas gabah kering panen (GKP) menjadi kunci utama.
Jusri optimistis target tahunan 11.300 ton bisa rampung sebelum Juni mendatang. “Saya berharap sampai Juni nanti target 11.300 ton sudah bisa kami capai. Simpul-simpul pengadaan saat ini sudah mulai solid,” ujarnya.
Penguatan jaringan kerja sama menjadi faktor krusial. Bulog Sulteng telah menjalin kemitraan dengan sejumlah pelaku usaha di berbagai daerah. Di Kabupaten Donggala, terdapat tiga mitra aktif. Sementara itu, Kabupaten Parigi Moutong menjadi wilayah dengan kontribusi terbesar setelah memiliki enam mitra yang terlibat langsung dalam pengadaan.
Wilayah Luwuk juga menunjukkan perkembangan positif. Jusri mengungkapkan ada tambahan dua hingga tiga mitra baru yang mulai berkontribusi dalam program pengadaan. Simpul-simpul ini menjadi tulang punggung kesuksesan penyerapan produksi pangan di Sulawesi Tengah.
Kabupaten Tolitoli masih menjadi perhatian khusus. “Di Tolitoli memang masih terus kami akselerasi, karena ini program baru bagi Bulog Sulteng untuk penyerapan gabah. Namun sejauh ini progresnya cukup bagus,” tuturnya.
Peningkatan serapan beras domestik ini diharapkan mampu memperkuat cadangan pangan pemerintah. Langkah ini juga berperan menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di Sulawesi Tengah.
“Konsistensi petani menjaga kualitas produksi paling penting. Harapannya, dengan adanya cetak sawah baru, produksi gabah petani semakin meningkat dalam menunjang swasembada pangan nasional,” kata Jusri.