SULAWESI TENGAH — UFC Freedom 250 menjadi edisi spesial yang tidak akan digelar di arena konvensional. Gedung Putih akan menjadi saksi pertarungan antara dua petarung kelas ringan yang sama-sama haus kemenangan. Gaethje, pemegang sabuk interim, akan berhadapan dengan Topuria yang kini memegang sabuk juara lightweight setelah mengalahkan Charles Oliveira.
Dalam pernyataan resmi yang dikutip dari bahan yang diterima redaksi, Justin Gaethje tidak main-main dengan targetnya. "Saya berada di sini karena saya adalah salah satu yang terbaik di dunia. Saya punya pelatih hebat dan kami punya rencana hebat," ujar petarung berusia 37 tahun itu.
"Saya akan mengubah mukanya seperti yang saya lakukan kepada semua lawan saya," tegas Gaethje, memberikan sinyal bahwa ia tidak akan memberi ampun kepada Topuria di atas oktagon.
Gaethje adalah legenda hidup kelas ringan UFC. Dari 32 pertarungan profesional, ia mengoleksi 27 kemenangan. Namanya sudah melewati ujian berat melawan jajaran petarung elite seperti Khabib Nurmagomedov, Dustin Poirier, Charles Oliveira, Max Holloway, dan Michael Chandler. Pengalaman puluhan ronde keras menjadi modal utama sang jawara interim.
Di sisi lain, Topuria datang dengan rekor sempurna. Petaruh berusia 28 tahun itu belum pernah sekalipun merasakan kekalahan dalam 17 laga MMA profesional. Sejak debut di UFC pada 2020, ia sukses menjungkalkan Alexander Volkanovski dan Max Holloway di kelas bulu, lalu naik kelas dan mengalahkan Oliveira untuk merebut sabuk lightweight.
Awalnya, UFC merencanakan pertarungan ini pada 4 Juli 2026 bertepatan dengan Hari Kemerdekaan AS yang ke-250. Namun, pihak penyelenggara kemudian memajukan jadwal sehingga bertepatan dengan hari ulang tahun Donald Trump. Keputusan itu menjadikan Gedung Putih sebagai latar belakang panggung pertarungan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah UFC.
Pertarungan ini dipastikan menjadi duel utama (main event) UFC Freedom 250. Seluruh mata penggemar MMA dunia akan tertuju ke Washington D.C. pada malam tersebut.