Pencarian

The Social Reckoning Review: Sekuel Spiritual The Social Network Tanpa Fincher

Rabu, 07 Oktober 2026 • 20:17:31 WIB
The Social Reckoning Review: Sekuel Spiritual The Social Network Tanpa Fincher
Sutradara Aaron Sorkin menghadiri penayangan perdana "The Social Reckoning" di Los Angeles.

SULAWESI TENGAH — Aaron Sorkin kembali menyutradarai sekaligus menulis "The Social Reckoning", film yang melanjutkan semangat "The Social Network" (2010) dengan menyorot skandal Facebook periode 2019-2021. Berbeda dari pendahulunya yang digarap David Fincher, film ini menampilkan Jeremy Allen White sebagai jurnalis Wall Street Journal dan Mikey Madison sebagai whistleblower Frances Haugen. Hasilnya menuai penilaian bahwa momennya sudah terlambat.

Aaron Sorkin mengambil kursi sutradara untuk "The Social Reckoning", sekuel spiritual dari "The Social Network" yang ia tulis 16 tahun lalu. Kali ini ia tidak hanya menulis naskah, tetapi juga mengarahkan langsung, menggantikan posisi David Fincher yang absen. Film ini mengangkat kisah nyata di balik pengungkapan skandal Facebook melalui seri investigasi "The Facebook Files".

Sinopsis dan Latar Cerita

Film ini mengikuti reporter Wall Street Journal, Jeff Horwitz (Jeremy Allen White), yang bekerja sama dengan whistleblower Frances Haugen (Mikey Madison) mengungkap kebenaran di balik algoritma Facebook. Investigasi mereka menyoroti bagaimana platform tersebut mendukung kelompok politik ekstremis dan keterlibatannya dalam dampak negatif Instagram terhadap pengguna muda.

Cerita mencakup periode 2019 hingga 2021, termasuk kesaksian Haugen di hadapan Komite Perdagangan Senat AS. Sorkin membuka film dengan prolog fiktif tentang seorang perempuan kulit putih bernama Kayleigh (Portia Doubleday) yang terlibat konfrontasi rasial dengan dua polisi kulit hitam, lalu mengunggah rekamannya ke grup supremasi kulit putih di Facebook.

Pergeseran Fokus dari Pendahulunya

Jika "The Social Network" terasa semakin visioner seiring waktu, "The Social Reckoning" justru diwarnai kesan "terlalu sedikit, terlalu terlambat". Film ini dinilai sebagai potret periode yang sudah usang, mengingat lanskap perang teknologi telah bergeser drastis dalam lima tahun terakhir.

Pada 2026, Facebook masih dianggap sebagai sarang misinformasi yang belum teregulasi, sementara evolusi kecerdasan buatan mengubah peta persaingan. Nada kemenangan sementara dalam film ini terasa kurang memuaskan di tengah realitas tersebut.

Perbedaan Gaya Penyutradaraan

Absennya Fincher membuat nuansa gelap dan mencekam yang menjadi ciri khas film pertamanya tidak lagi dominan. Sorkin sebagai sutradara lebih menonjolkan sisi idealis dan pidato-pidato khas karyanya seperti "The West Wing" dan "The Trial of the Chicago 7".

Film sesekali memberi penghormatan pada atmosfer pendahulunya, tetapi pendekatan Sorkin yang lebih berbicara dan berapi-api membuatnya kehilangan ketegangan yang dulu membuat "The Social Network" begitu memikat.

Penampilan Para Pemain

Jeremy Allen White tampil sebagai Horwitz, jurnalis politik yang baru ditugaskan ke beat teknologi WSJ. Mikey Madison menghidupkan Haugen sebagai sosok Gen Z yang masih percaya bisa mengubah dunia, meski kerap dihadapkan pada ketidakpedulian atasannya.

Jeremy Strong berperan sebagai Mark Zuckerberg, sementara Betty Gilpin muncul sebagai atasan Horwitz yang dingin. Konflik utama film berpusat pada dinamika tarik-menarik antara Horwitz dan Haugen sebagai sumber di dalam Facebook.

Kritik dan Konteks Industri

Film ini menyoroti data bahwa 64% anggota kelompok ekstremis di Facebook terdorong ke sana oleh alat rekomendasi platform. Ketika tim Haugen mengusulkan langkah pengamanan yang mungkin menurunkan engagement 1%, jawaban Zuckerberg dalam film sudah bisa ditebak.

"The Social Reckoning" tetap menjadi tontonan yang cukup menghibur dan cerdas, tetapi tidak mampu menyamai pencapaian "The Social Network" yang dinilai sebagai karya penulisan terbaik Sorkin sekaligus filmnya yang paling tidak khas.

Bagi penonton Indonesia yang mengikuti perkembangan industri film Hollywood, kehadiran film ini menandai upaya Sorkin merefleksikan ulang dampak media sosial yang kini juga menjadi isu regulasi di dalam negeri, seiring pembahasan aturan platform digital oleh pemerintah.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: variety.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks