SULAWESI TENGAH — Film ini melanjutkan waralaba yang selalu menghadapi pertanyaan sama: apa yang terjadi pada pria korup ketika tidak ada Tuhan yang tersisa untuk menyelamatkannya?
Pendekatan Berbeda dari Dua Film Sebelumnya
Abel Ferrara membangun "Bad Lieutenant" (1992) di atas rasa bersalah Katolik, memuncak dengan detektif yang berlutut di altar gereja memohon pengampunan. Werner Herzog mengambil alih pada 2009 lewat "Port of Call New Orleans" dan membuang seluruh kerangka religius itu, menggantinya dengan alam semesta karmik yang absurd tanpa tuhan.
Miike tidak memilih keduanya. Ia mengganti kerangka moral film dengan penghormatan terhadap alam yang ada dalam spiritualitas Jepang.
"Di Jepang kami tidak menganut agama monoteistik, setidaknya sebagian besar tidak, tapi kami juga punya rasa spiritualitas terhadap berbagai dewa, entah itu sesuatu seperti alam," kata Miike. "Kami sangat menghormati alam. Itu sesuatu yang kami takuti."
Karakter Yabuki sebagai Cerminan Realitas Polisi Jepang
Kerangka itu membentuk korosi perlahan Letnan Yabuki, detektif yang menyembunyikan kecanduan narkoba dan utang judi. Ia bekerja sama dengan agen FBI Gwen Birgssen (Lily James) untuk memburu pembunuh yang terhubung dengan Yakuza.
"Saya pikir karakter ini dalam banyak hal mewakili pria-pria yang hidup di Jepang," ujar Miike.
Miike melihat korosi itu sebagai persoalan struktural, bukan sekadar personal. Ditanya apakah film ini berargumen bahwa policing yang efektif kadang berarti menjadi bagian dari dunia kriminal yang sedang diselidiki, ia setuju tanpa ragu.
"Kepolisian sebagai organisasi, dalam harus menyelidiki berbagai kejahatan ini, tidak terhindarkan bahwa kamu mulai mengotori dirimu di lingkungan itu," kata Miike. "Dan terutama untuk karakter di 'Bad Lieutenant', dia seseorang yang mencoba menyusup ke organisasi kriminal ini, dan jadi dia jatuh ke dalamnya."
Oguri Shun dan Lily James, Dua Kutub yang Bertemu
Untuk peran utama, Miike tidak memilih aktor yang sudah identik dengan kegelapan. Ia membagi aktor ke dua kubu: mereka yang sangat terikat pada citra yang sudah dibangun dan enggan mengejutkan penggemar, serta mereka yang justru menikmati mengkhianati ekspektasi itu.
"Oguri Shun termasuk yang kedua," kata Miike.
Ini kolaborasi keempat Miike dan Oguri. Miike menunjuk satu babak karier Oguri yang kurang dikenal sebagai bukti: lebih dari satu dekade terbagi antara film dan panggung, mementaskan Shakespeare.
"Bukan hanya aktor film, dia juga aktor teater, dan selama lebih dari satu dekade, separuh kariernya ada di teater, melakukan Shakespeare," ujar Miike. "Orang yang tahu aspek kariernya itu tidak akan kaget dia mengambil peran seperti ini."
Berlawanan dengan Oguri, Lily James sudah dipilih sejak awal lewat co-financier dan distributor Neon. Miike menemukan sikap pribadinya bertolak belakang dengan volatilitas perannya.
"Dia sangat lembut dan sangat bersemangat soal pekerjaannya," kata Miike. "Mungkin butuh banyak keberanian untuk mengambil peran ini, tapi begitu dia menerimanya, alih-alih membuat dirinya nyaman, dia lebih berusaha beradaptasi dengan cara kerja set film Jepang."
Soal Kekerasan, Miike Bergeser dari Citra ke Psikologi
Kekerasan selalu mengikuti Miike, dari "Ichi the Killer" hingga "Audition". Ia menyebut minatnya sendiri sudah bergeser dari citra itu sendiri menuju psikologi orang-orang yang melakukannya.
"Bukan berarti tujuan saya menggambarkan kekerasan atau orang-orang kejam. Saya tertarik pada karakter dan protagonis tertentu dalam naskah," kata Miike.
Ia menggambarkan dorongan untuk mendorong tokoh-tokoh outlaw itu melewati batas yang ditetapkan konvensi dan kenyamanan penonton.
"Saya ingin bilang kamu lebih dari apa yang ditulis untukmu di naskah ini, dan saya ingin kamu bisa membebaskan diri. Dorongan itulah yang mengarah ke penggambaran kekerasan seperti itu," ujarnya.
Ia cepat menambahkan bahwa insting itu berlaku dua arah. "Kalau kami mengikuti protagonis yang tidak menggunakan kekerasan untuk mengekspresikan kekuasaan, saya mungkin akan membuat drama keluarga yang sangat tenang."
Waralaba Anti-Waralaba
Produser Sam Pressman, yang mewarisi properti "Bad Lieutenant" dari ayahnya, Edward R. Pressman, menyebut waralaba ini sebagai "anti-franchise franchise" — dirancang untuk memberi setiap sutradara kebebasan penuh atas versi karakter mereka sendiri. Miike menyebut kebebasan itu sebagai fondasi proyek ini.
"Bad Lieutenant: Tokyo" tayang perdana di Toronto Film Festival sebagai salah satu judul yang ditunggu di jadwal festival tahun ini.