SULAWESI TENGAH — Forum yang sebelumnya bernama Rapat Koordinasi (Rakor) ini menjadi ruang bagi BCA untuk memperkuat kolaborasi lintas pihak dalam pengembangan desa wisata dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Direktur BCA Antonius Widodo Mulyono menegaskan bahwa pengembangan sektor tersebut tidak bisa berjalan sendiri dan membutuhkan sinergi yang konsisten.
"Pengembangan desa wisata dan UMKM membutuhkan kolaborasi yang konsisten antara berbagai pihak. Mulai dari penguatan kapasitas masyarakat, pengembangan produk, hingga perluasan akses pasar," ujar Widodo dalam keterangan resminya, Senin (31/8).
Pembekalan Digital dan Kepemimpinan untuk Penggerak Desa
Perubahan yang cepat menuntut masyarakat desa memiliki kemampuan adaptasi yang memadai. Karena itu, BCA tidak hanya memberikan pendanaan tetapi juga pelatihan terstruktur bagi para penggerak desa wisata.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menjelaskan bahwa peserta forum menerima pembekalan di beberapa area kunci. Materi mencakup kepemimpinan dan regenerasi pengurus desa wisata, penguatan kapasitas pelaku UMKM, hingga pemanfaatan transformasi digital untuk memperluas jangkauan pasar.
“Desa Bakti BCA Community Forum menjadi ruang bagi kami untuk terus belajar bersama, mengevaluasi program, dan memperkuat kapasitas para penggerak desa wisata maupun pelaku UMKM,” kata Hera.
Mengapa Kolaborasi Menjadi Kunci?
Widodo memandang ekosistem desa wisata yang sehat tidak cukup hanya mengandalkan satu pihak. Dibutuhkan peran aktif pemerintah daerah untuk regulasi, akademisi untuk riset, serta swasta untuk akses pasar dan pendanaan.
Forum ini menjadi ajang mempertemukan para pemangku kepentingan tersebut untuk berbagi pengalaman dan mengidentifikasi peluang pengembangan yang sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Peserta juga mendapatkan wawasan tentang regenerasi kepengurusan agar program tidak terhenti saat terjadi pergantian pengelola.
Dampak bagi Kualitas Produk UMKM
Penguatan kapasitas pelaku UMKM menjadi perhatian serius dalam forum ini. Pendekatannya tidak hanya pada aspek produksi, tetapi juga bagaimana produk mampu bersaing di pasar yang lebih luas melalui kanal digital.
BCA selama ini menjalankan program ini melalui kerangka creating shared value (CSV), yang berarti nilai yang diciptakan harus dirasakan baik oleh masyarakat maupun perusahaan. Dengan forum ini, bank swasta terbesar di Indonesia itu berupaya memastikan program pemberdayaannya berkelanjutan dan berdampak terukur.
Forum yang berlangsung tiga hari tersebut mengindikasikan komitmen BCA untuk terus mendampingi desa binaan agar tidak sekadar berhenti pada tahap perintisan, melainkan mampu mandiri dan menjadi contoh pengembangan ekonomi berbasis komunitas.