PALU — Momentum HBA ke-66 tahun ini dijadikan sarana refleksi bagi seluruh insan Adhyaksa, termasuk di lingkungan Kejati Sulawesi Tengah. Dalam sambutannya, Jaksa Agung menyebut bahwa perjalanan panjang institusi harus dimaknai sebagai ajang pembenahan kelembagaan, penguatan integritas, dan peningkatan profesionalisme. “Kami bertekad menegakkan hukum berdasarkan kebenaran dan hati nurani,” tegasnya.
Sanitiar Burhanuddin juga mengingatkan bahwa keberhasilan Kejaksaan dalam menangani perkara strategis, menyelamatkan keuangan negara, dan memulihkan aset publik tidak boleh membuat lengah. Justru setiap tantangan yang dihadapi harus menjadi bahan introspeksi dan momentum pembenahan. “Kebesaran sebuah lembaga tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan, tetapi juga oleh keberanian mengakui kekurangan, memperbaiki diri, serta bangkit dengan integritas yang semakin kokoh,” ujarnya.
Penanganan Perkara Strategis Dongkrak Kepercayaan Publik
Dalam kesempatan yang sama, Jaksa Agung mengapresiasi kerja keras seluruh insan Adhyaksa yang berhasil meningkatkan kepercayaan publik. Capaian itu, menurutnya, tidak lepas dari penanganan perkara-perkara besar yang menjadi perhatian masyarakat, termasuk upaya penyelamatan keuangan negara dan pemulihan aset. “Berkat kerja keras, kita mampu memperkuat kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.
Syukuran HBA ke-66 tingkat Kejati Sulteng diikuti secara virtual dari aula kantor Kejati di Palu. Kegiatan ini juga menjadi ajang memperkuat komitmen jajaran untuk terus menjaga profesionalisme dan integritas. Jaksa Agung mengajak seluruh insan Adhyaksa untuk senantiasa memperkuat keimanan, menjaga harapan, dan tidak pernah berhenti berbuat yang benar.