SULAWESI TENGAH — Ini bukan sekadar final antarnegara. Bagi Lionel Messi, laga nanti adalah pertemuan dengan masa lalunya yang paling gemilang. Skuad Spanyol saat ini dipenuhi oleh produk akademi dan pemain inti Barcelona—klub yang membesarkan namanya selama lebih dari dua dekade.
Total delapan penggawa Blaugrana menghuni skuad La Furia Roja. Dari lini belakang hingga depan, aroma Camp Nou sangat kental: kiper Joan Garcia, bek Eric Garcia dan Pau Cubarsi, gelandang Dani Olmo, Gavi, dan Pedri, serta penyerang Lamine Yamal dan Ferran Torres. Marc Cucurella, eks Barcelona yang kini berseragam Real Madrid, juga masuk dalam daftar.
Pengalaman Pertama Messi Melawan Bekas Klub di Ajang Resmi
Sepanjang kariernya, Messi belum pernah sekali pun bertemu Barcelona di kompetisi resmi sejak hengkang pada 2021. Final nanti menjadi yang pertama—meski lawannya adalah tim nasional, bukan klub. Cucurella bahkan sempat menjadi rekan setim Messi di Camp Nou sebelum pindah.
"Saya punya banyak kenangan indah di sana. Tapi sekarang saya membela Argentina dan ingin membawa pulang trofi lagi," demikian kira-kira pesan yang tersirat dari tekad Messi. La Pulga berambisi membawa Albiceleste juara dua kali beruntun setelah sukses di edisi sebelumnya.
Warisan 672 Gol dan 35 Trofi di Camp Nou
Messi adalah legenda hidup Barcelona. Ia membela raksasa Catalan sejak dari La Masia hingga cabut pada 2021. Statistiknya di klub itu luar biasa: 672 gol dari 778 penampilan, 35 trofi, termasuk 10 gelar LaLiga dan 4 Liga Champions. Delapan dari total Ballon d'Or-nya diraih selama berseragam biru-merah.
Namun, kenangan manis itu harus dikesampingkan. Di final nanti, Messi akan berusaha menghancurkan pertahanan yang diisi oleh pemain-pemain yang sehari-hari berlatih di sistem yang sama dengannya dulu.
Duel Taktik: Kenalan Lama vs Sistem Baru
Menariknya, Spanyol kini dilatih dengan filosofi yang tak jauh berbeda dari masa keemasan tiki-taka. Sementara Argentina di bawah arahan Lionel Scaloni sudah menjelma menjadi tim yang pragmatis namun mematikan. Pertemuan ini bukan hanya soal gengsi, tapi juga uji nyali bagi Messi melawan bayang-bayang masa lalunya yang paling cemerlang.