SULAWESI TENGAH — Kenaikan IHSG sebesar 113,48 poin itu terjadi di tengah volume transaksi yang mencapai Rp 12,09 triliun. BRI Danareksa Sekuritas mencatat, penguatan terjadi merata di hampir seluruh sektor. Sektor basic materials memimpin dengan kenaikan 2,96 persen, disusul energi (+2,66 persen), industri (+2,44 persen), infrastruktur (+1,57 persen), dan keuangan (+1,56 persen).
Dari total emiten, sebanyak 377 saham menguat berbanding 250 saham yang melemah. Saham-saham dengan nilai transaksi terbesar didominasi BBCA, BBRI, BMRI, BRPT, TPIA, dan BUMI.
Katalis S&P Belum Cukup Tarik Minat Asing
Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai, keputusan S&P mempertahankan rating menjadi katalis utama penguatan IHSG. "Memberikan sinyal lembaga pemeringkat internasional masih menilai fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat," ujarnya, Senin (14/7/2026).
Meski demikian, Hendra mencatat investor asing masih membukukan net sell sekitar Rp 412 miliar. Artinya, penguatan IHSG belum diikuti oleh masuknya dana asing secara agresif. Sebagian investor global masih bersikap hati-hati.
"Sentimen positif dari dalam negeri masih harus berhadapan dengan tekanan global yang belum mereda," kata dia.
Tekanan Eksternal: Geopolitik dan Pelemahan Rupiah
Dua faktor eksternal utama masih membayangi. Pertama, meningkatnya konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah yang bergerak di kisaran Rp 18.100 per dolar AS.
Ke depan, Hendra mengingatkan investor untuk mencermati area support kuat di level 5.887. Selama IHSG bertahan di atas level tersebut, tren pemulihan jangka pendek masih terjaga. Sebaliknya, jika tekanan eksternal meningkat dan arus keluar dana asing berlanjut, volatilitas pasar berpotensi kembali naik.
Resistance Terdekat dan Sektor yang Perlu Dicermati
Secara teknikal, Hendra melihat keberhasilan IHSG kembali ke atas 6.000 membuka peluang menuju resistance psikologis di kisaran 6.080–6.100. "Apabila didukung peningkatan volume transaksi dan berkurangnya tekanan jual asing, ruang kenaikan masih dapat berlanjut," jelasnya.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyebutkan, area resistance terdekat IHSG berada di 6.050–6.075. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus menambahkan, sentimen pasar juga ditopang oleh laporan momentum investasi yang tetap kuat di berbagai kawasan ekonomi khusus (KEK) dan surplus keseimbangan fiskal pemerintah.
Hendra pun merekomendasikan pendekatan selektif. "Fokus pada saham-saham berfundamental kuat yang memiliki kinerja dan prospek pertumbuhan laba yang solid," ucapnya.
Investasi mengandung risiko.