Pencarian

BYD dan Sungrow Kuasai Pasokan Baterai 19 GWh untuk Proyek Tenaga Surya Terbesar Dunia di Abu Dhabi

Sabtu, 11 Juli 2026 • 00:20:01 WIB
BYD dan Sungrow Kuasai Pasokan Baterai 19 GWh untuk Proyek Tenaga Surya Terbesar Dunia di Abu Dhabi
Proyek RTC di Abu Dhabi menjadi instalasi solar-plus-storage terbesar di dunia dengan kapasitas 19 GWh.

SULAWESI TENGAH — Proyek RTC yang digarap Masdar bersama Emirates Water and Electricity Company (EWEC) memecahkan rekor dunia sebagai instalasi solar-plus-storage terbesar. Tujuannya mulia: membuktikan energi surya bisa menjadi sumber listrik baseload yang andal, tanpa lagi terganggu intermittensi saat matahari terbenam. Ketua Masdar, Dr. Sultan Al Jaber, menyebut proyek ini sebagai solusi atas masalah tertua energi terbarukan.

BYD Bawa Baterai Raksasa 2.710 Ah dalam Satu Stasiun

Bagian BYD dalam proyek ini bukan sekadar kumpulan kontainer baterai biasa. Perusahaan asal Shenzhen itu akan membangun satu stasiun baterai terintegrasi berkapasitas 1.644 MW / 11.275 MWh. Angka ini setara dengan kapasitas penyimpanan energi listrik seluruh armada grid di banyak negara.

Stasiun raksasa ini mengandalkan sistem Haohan terbaru BYD yang menggunakan sel Blade Battery 2.710 Ah. BYD mengklaim kapasitas sel ini 300% lebih tinggi dibandingkan sel baterai penyimpanan grid generasi lama. Dengan sel yang lebih besar dan jumlah koneksi lebih sedikit, kompleksitas sistem manajemen baterai (BMS) bisa ditekan hingga 70-80%.

Setiap kontainer standar 20 kaki mampu menyimpan 10 MWh energi. Seluruh sistem diklaim memiliki rating IP66 untuk ketahanan terhadap debu dan pasir di gurun Abu Dhabi, serta mampu beroperasi pada suhu ekstrem -30°C hingga 55°C. BYD juga menyertakan sistem manajemen energi GC Master yang sanggup mengelola hingga 15 GWh dalam satu stasiun.

Dominasi China Tak Terbendung di Pasar Penyimpanan Grid Timur Tengah

Kontrak Masdar ini bukanlah kejutan. BYD sebelumnya juga mengamankan kontrak penyimpanan grid 12,5 GWh di Arab Saudi. Gelombang penguasaan pasar oleh pemasok China terjadi seiring ambruknya harga baterai global. BYD bahkan disebut tengah mendorong baterai sodium-ion menuju biaya serendah US$0,04 per watt-jam, sementara CATL mengembangkan platform Tener untuk durabilitas puluhan tahun.

Persaingan kini bukan lagi soal siapa yang bisa membuat baterai, melainkan siapa yang bisa membuat sel paling murah dan paling tahan lama dalam skala raksasa. Dalam pertarungan itu, produsen China seperti BYD dan CATL memiliki keunggulan absolut karena memproduksi sendiri seluruh rantai pasok, dari sel hingga sistem terintegrasi.

Apa Artinya untuk Konsumen dan Industri Energi?

Bagi pemilik rumah di daerah tropis seperti Indonesia, proyek RTC menjadi bukti nyata bahwa solar-plus-storage adalah cara termurah untuk mendapatkan listrik bersih 24 jam. Dengan tarif listrik yang terus naik, investasi pada panel surya atap dan baterai rumah menjadi semakin masuk akal secara ekonomi. Namun, proyek raksasa di Abu Dhabi ini juga menunjukkan bahwa teknologi penyimpanan energi skala grid sudah melesat jauh meninggalkan solusi rumahan, dan kini dikuasai penuh oleh pabrikan China.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: electrek.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks