Gubernur Sulteng Anwar Hafid Ingatkan Mahasiswa Unismuh Luwuk: Gelar Profesor Tak Berarti Tanpa Akhlak

Penulis: Cahyo Wibowo  •  Jumat, 06 November 2026 | 05:16:01 WIB
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyampaikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Unismuh Luwuk.

BANGGAI — Anwar Hafid menyampaikan peringatan itu secara langsung di forum kampus, bukan lewat pidato tertulis. Menurutnya, intelektualitas seseorang harus ditopang karakter moral yang kokoh agar tetap dihargai di tengah masyarakat.

"Biar (gelarnya) profesor, tapi kalau tidak punya akhlak, tidak akan ada orang yang meliriknya," tegas Gubernur Sulteng dalam kuliah umum tersebut.

Kejujuran dan Kerendahan Hati jadi Modal Utama

Anwar menyebut dua karakter moral yang wajib dimiliki setiap orang: kejujuran dan kerendahan hati. Kejujuran dipandangnya sebagai modal membangun kepercayaan.

Kerendahan hati, lanjut dia, membuat seseorang tetap dihargai setinggi apa pun ilmu dan kedudukan yang diraihnya. Kedua hal itu harus berjalan seiring karakter kinerja, yakni kesungguhan dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.

Mahasiswa Unismuh Luwuk diminta tidak hanya mengejar gelar akademik. Integritas dan kepribadian yang kuat dinilainya jauh lebih menentukan bagaimana seseorang diperlakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah Buruh Bongkar Muat di Balik Program Berani Cerdas

Di hadapan mahasiswa, Anwar membagi pengalaman hidupnya saat harus menjadi buruh bongkar muat demi membiayai kuliah. Keterbatasan ekonomi keluarga memaksanya bekerja sambil menempuh pendidikan.

Pengalaman itu menjadi landasan baginya memperjuangkan akses pendidikan gratis melalui program Berani Cerdas. Alokasi anggaran program tersebut kini mencapai Rp367 miliar, bersumber dari APBD Sulawesi Tengah.

"Saya tidak mau ada anak Sulteng yang merasakan penderitaan saya. Orang tua setengah mati kalau anaknya sudah minta uang untuk bayar uang kuliah," ungkapnya.

Pesan Penutup untuk Mahasiswa Unismuh Luwuk

Anwar menutup kuliah umum dengan menegaskan prioritas yang harus dipegang mahasiswa. Gelar tinggi tetap penting, tetapi akhlak, kejujuran, dan kerendahan hati dinilainya jauh lebih menentukan posisi seseorang di masyarakat.

"Gelar tinggi itu penting, tetapi akhlak, kejujuran, dan kerendahan hati jauh lebih menentukan bagaimana seseorang dihargai dalam kehidupan," simpulnya.

Reporter: Cahyo Wibowo
Sumber: sultengterkini.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top