Guru SD di Parigi Moutong Inisiasi MBG Mandiri Rp 5.000 Per Porsi untuk 52 Murid di Pelosok Tinombo

Penulis: Cahyo Wibowo  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 12:46:31 WIB
Guru SD Kecil Terpencil Ogolau, Najib, menginisiasi program MBG mandiri seharga Rp 5.000 per porsi untuk 52 murid.

PARIGI MOUTONG — Program Makan Bergizi Gratis mandiri di SD Kecil Terpencil Ogolau bermula dari kebiasaan sederhana Najib membagikan buah sirsak yang dipetik dari halaman belakang sekolah. Momen anak-anak menyantap buah gratis itu direkam dan diunggah ke media sosial dengan sebutan Makan Buah Gratis.

Unggahan tersebut menarik perhatian sejumlah donatur. Mereka menawarkan modal untuk menyediakan makanan bagi para murid, yang kemudian berkembang menjadi program MBG Rp 5.000 per porsi.

"Awal mulanya kami dapat buah sirsak di belakang sekolah. Setelah makan sirsak, kami upload dan nyebutnya Makan Buah Gratis atau MBG. Dari situ ada beberapa donatur yang bilang, 'nanti saya modalin untuk makanan'. Itulah awal mula kami buat program MBG Rp 5.000 ini," ujar Najib kepada detikcom, Kamis (15/10/2026).

Menu Nasi Kuning hingga Ikan, Dimasak Warung Lokal di Kilometer 5

Dengan anggaran Rp 5.000 per porsi, menu yang disajikan terdiri dari nasi kuning, mi, sambal, dan sepotong ikan. Pembuatan makanan diserahkan sepenuhnya kepada pemilik warung lokal di wilayah Kilometer 5, berjarak sekitar 3 kilometer dari sekolah.

Akses menuju warung tidak mulus. Najib menyebut jalur tersebut harus menyeberangi tiga sungai. Pemilik warung yang merupakan warga lokal dinilai sudah terbiasa dengan medan itu.

"Akses jalan termasuk sulit karena harus menyeberangi tiga sungai. Tapi karena pemilik warung warga lokal, beliau sudah terbiasa," ungkapnya.

Stok Pangan Bergantung Hari Pasar Selasa

Ketersediaan bahan baku menjadi kendala tersendiri. Program ini belum bisa berjalan setiap hari karena pemilik warung harus menunggu hari pasar setiap Selasa atau pergi ke pusat kecamatan untuk berbelanja stok pangan.

Sejauh ini, dana yang terkumpul dari donatur disebut cukup untuk mendanai empat sampai lima kali makan berikutnya. Najib belum menyebut adanya sumber pendanaan tetap di luar donasi media sosial.

Kehadiran Murid Melonjak, Keluhan Lapar Hilang

Dampak program terlihat pada dinamika belajar di kelas. Angka kehadiran siswa melonjak drastis dan tidak ada lagi keluhan lapar di tengah jam pelajaran.

Sebelum program berjalan, proses belajar mengajar di atas pukul 09.00 Wita sangat sulit. Meski jam pelajaran dijadwalkan selesai pukul 11.30 Wita, para murid sudah tidak fokus menerima materi.

"Di jam 09.00 atau 10.00 itu sudah banyak yang mengeluh, 'kapan pulang Pak Guru, kami lapar.' Saat saya berkunjung ke rumah-rumah siswa, mayoritas memang berada di kategori prasejahtera, di atas 90 persen. Banyak yang tidak sarapan karena terkendala bahan makanan," kata Najib.

Sepotong Ikan untuk Mamak di Rumah

Salah satu momen paling berkesan bagi Najib terjadi saat distribusi makanan berlangsung. Seorang murid menyisihkan sebagian ikan dari nasi kuningnya untuk dibawa pulang.

"Salah satu cerita paling berkesan adalah ketika mereka dapat nasi kuning dan sepotong ikan. Ada murid yang menyisihkan sebagian ikannya sambil bilang, 'Oh, sepotongnya ini saya mau bawakan ke mamakku, Pak Guru.' Itu sangat berkesan bagi saya," kenangnya.

Harapan agar MBG Resmi Menjangkau Sekolah Terpencil

Najib berharap program Makan Bergizi Gratis resmi dari pemerintah dapat segera menjangkau sekolah-sekolah di pelosok Kecamatan Tinombo. Menurutnya, masih banyak sekolah terpencil di wilayah itu yang membutuhkan manfaat serupa.

"Kalau indikatornya adalah butuh, sekolah kami sangat butuh. Di Kecamatan Tinombo ini ada cukup banyak sekolah terpencil yang sangat membutuhkan manfaat program MBG. Besar harapan kami pemerintah bisa merealisasikan aspirasi siswa-siswi di sekolah terpencil," pungkasnya.

Reporter: Cahyo Wibowo
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top