BYD Batal Bangun Pabrik di Malaysia, Peluang Impor dari Subang Masih Terbuka

Penulis: Budi Santoso  •  Senin, 14 September 2026 | 12:47:31 WIB
Managing Director BYD Malaysia, Jacob Ma, mengumumkan pembatalan pembangunan pabrik CKD di Tanjung Malim.

SULAWESI TENGAH — Keputusan ini disampaikan langsung oleh Managing Director BYD Malaysia, Jacob Ma. Pabrik completely knocked down (CKD) di Tanjung Malim yang sempat direncanakan resmi tidak dilanjutkan, dan BYD kini menyusun ulang strategi produksinya untuk pasar Malaysia.

Yang menarik, BYD tidak menutup pintu untuk perakitan lokal. Mereka justru sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah vendor di Malaysia, dan pembicaraan itu disebut sudah memasuki tahap akhir.

Kerja Sama Vendor Jadi Jalur Alternatif Perakitan Lokal

Alih-alih membangun fasilitas sendiri, BYD memilih merangkul ekosistem otomotif yang sudah ada di Malaysia. Pendekatan ini dinilai lebih efisien ketimbang investasi pabrik dari nol.

"Kami ingin memastikan BYD bisa bergerak bersama ekosistem otomotif lokal. Kami sudah mulai berdiskusi dengan vendor di negara ini sejak tahun lalu dan ingin melihat bagaimana kami bisa bekerja sama dengan mereka serta menjadi bagian dari ekosistem tersebut," kata Jacob Ma, dikutip Harian Metro.

Diskusi dengan vendor lokal ini bukan langkah dadakan. Sejak tahun lalu BYD sudah menjajaki kemungkinan tersebut, dan kini hasilnya mulai mengerucut ke tahap finalisasi.

Impor dari Indonesia Belum Masuk Rencana, Tapi Pintunya Terbuka

Soal kemungkinan mendatangkan mobil BYD rakitan Subang ke Malaysia, Ma memberi jawaban yang cukup jelas. Belum ada rencana ke arah sana dalam waktu dekat.

Namun ia menyebut satu syarat yang bisa mengubah keadaan. Jika ada model tertentu yang tidak tersedia di Malaysia dan permintaan pasarnya tinggi, barulah opsi impor dari Indonesia akan dipertimbangkan.

Artinya, pabrik Subang tetap punya peran strategis. Fasilitas itu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik Indonesia sekaligus membuka peluang ekspor ke negara-negara kawasan Asia Tenggara.

Kapasitas Produksi Dirancang untuk 10-20 Tahun ke Depan

Ma menegaskan perencanaan kapasitas produksi BYD tidak bisa dilihat dalam hitungan bulan atau tahun pendek. Horizon waktunya 10 sampai 20 tahun, mencerminkan skala ambisi perusahaan di kawasan ini.

Selain mengatur strategi produksi, BYD juga masih mengeksplorasi peluang kolaborasi dengan mitra lokal untuk mendorong perkembangan industri kendaraan energi baru di Malaysia. Pendekatan kolaboratif ini jadi tema utama langkah mereka di sana.

Penjualan BYD di Malaysia Tembus 35 Ribu Unit

Sejak pertama kali diperkenalkan di Malaysia, BYD mengklaim telah menjual sekitar 35 ribu unit mobil. Dari jumlah itu, lebih dari 7.500 unit terjual pada paruh pertama 2026 saja.

Angka tersebut menunjukkan pasar Malaysia masih menyerap produk BYD dengan baik, meski tanpa fasilitas produksi lokal. Pertanyaannya sekarang, apakah strategi vendor dan potensi impor dari Subang cukup untuk menjaga momentum itu dalam jangka panjang.

Reporter: Budi Santoso
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top