8.000 Liter Air Bersih Disuplai Setiap Hari untuk Warga Terdampak Kekeringan di Bolano Barat Parigi Moutong

Penulis: Deni Kurniawan  •  Senin, 07 September 2026 | 21:58:31 WIB
Warga Desa Bolano Barat, Kecamatan Bolano Lambunu, menerima suplai 8.000 liter air bersih setiap hari dari mobil tangki Pemkab Parigi Moutong untuk memenuhi kebutuhan di tengah kekeringan.

Pemkab Parigi Moutong mendistribusikan 8.000 liter air bersih setiap hari kepada warga Desa Bolano Barat, Kecamatan Bolano Lambunu yang terdampak kekeringan akibat El Nino. Distribusi menggunakan satu unit mobil tangki yang disiagakan di posko siaga darurat karhutla dan kekeringan.

PARIGI MOUTONG — Ratusan warga di Desa Bolano Barat, Kecamatan Bolano Lambunu kini menggantungkan kebutuhan air hariannya pada suplai dari pemerintah daerah. Pemkab Parimo mengerahkan satu unit mobil tangki untuk melayani warga yang kesulitan air bersih di tengah puncak musim kemarau.

Plt Kepala BPBD Parigi Moutong Moh Rivai mengatakan distribusi dilakukan setiap hari menyusul penetapan status siaga darurat kekeringan dan karhutla di delapan kecamatan.

Delapan Kecamatan Berstatus Siaga Darurat

Status siaga darurat bencana kekeringan dan karhutla telah ditetapkan untuk delapan kecamatan di Kabupaten Parigi Moutong. Wilayah tersebut meliputi Palasa, Tomini, Mepanga, Ongka Malino, Bolano, Bolano Lambunu, Taopa, dan Moutong.

Penetapan status ini memperkuat posisi BPBD untuk menggerakkan sumber daya lintas sektor dalam penanganan darurat.

Mesin Pompa Air Segera Ditambahkan

BPBD Parigi Moutong saat ini mengajukan bantuan mesin pompa air untuk memperluas jangkauan layanan ke wilayah terdampak lainnya. "Situasi darurat saat ini langkah yang bisa dilakukan mensuplai kebutuhan masyarakat, kami juga saat ini sedang meminta bantuan mesin pompa air untuk memenuhi kebutuhan wilayah-wilayah terdampak kekeringan," ujar Rivai.

Langkah ini ditempuh karena kebutuhan air diprediksi meningkat seiring intensitas kemarau yang terus berlanjut.

September 2026 Diprediksi Puncak Kemarau

Pemerintah mengimbau daerah memperkuat kesiapsiagaan karena September 2026 diprediksi menjadi puncak musim kemarau. Analisis BMKG mencatat sekitar 86 persen wilayah Sulawesi Tengah telah memasuki musim kemarau, sehingga risiko kekeringan dan karhutla meningkat.

Kesiapsiagaan dilakukan lintas sektor dengan melibatkan personel pemadam kebakaran, TNI/Polri, Tagana, pemerintah kecamatan dan desa, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), serta unsur terkait lainnya.

Karhutla di Santigi Jadi Perhatian Serius

Ancaman kebakaran hutan dan lahan juga menjadi perhatian setelah terjadi kebakaran di Desa Santigi dan wilayah Bolano Lambunu. Rivai menegaskan personel gabungan disiagakan untuk merespons cepat potensi titik api baru di wilayah rawan.

Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar mengingat kondisi vegetasi yang kering mudah memicu api meluas.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top