Reagan dan Gorbachev: Kisah Diplomasi di Balik Berakhirnya Perang Dingin

Penulis: Deni Kurniawan  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 13:42:31 WIB
Reagan dan Gorbachev bertemu dalam agenda diplomasi pengendalian senjata nuklir pada pertengahan 1980-an.

SULAWESI TENGAH — Film berjudul "The Brink of War" yang dibintangi Jeff Daniels sebagai Reagan menyoroti momen krusial setelah 1985, ketika kemunculan Mikhail Gorbachev membuka peluang besar bagi kesepakatan pengendalian senjata dengan rival terkuat Washington. Kisah ini menjadi studi kasus tentang bagaimana diplomasi yang disiapkan dengan matang dapat mengubah arah sejarah global.

Sebelum era Gorbachev, Reagan membangun reputasinya justru dengan menyerang kebijakan détente yang diusung pemerintahan Richard Nixon. Pada 1976, ia nyaris menjegal Gerald Ford di konvensi partai dengan menjadikan détente dan arsiteknya, Henry Kissinger, sebagai sasaran utama kritik.

Dari Retorika Konfrontatif ke Meja Perundingan

Begitu menjabat pada 1981, Reagan mengisi tim kebijakan luar negerinya dengan para pejabat yang sepaham: menolak détente dan mendukung ekspansi besar-besaran anggaran militer. Namun di balik citra hawkish, Reagan diam-diam telah mempertimbangkan penghapusan total senjata nuklir sejak era 1940-an.

Jalannya menuju tujuan itu, menurutnya, justru dimulai dari membangun arsenal militer yang tangguh, mengisolasi Uni Soviet untuk memaksa konsesi, dan meninggikan retorika agar para pemimpin komunis yakin bahwa ia tidak menggertak soal kesiapan menggunakan kekuatan besar.

Kontras dengan Negosiasi Perang Iran yang Kacau

Pendekatan Reagan itu berbanding terbalik dengan penanganan perang dengan Iran oleh Presiden Donald Trump yang berlangsung nyaris enam bulan dengan biaya sedikitnya 37,5 miliar dolar AS. Negosiasi penyelesaian konflik tersebut digambarkan kacau, ditandai pengumuman gencatan senjata yang langsung dilanggar dan pernyataan resmi yang sering bertentangan dengan fakta di lapangan.

Tujuan perang pun berubah-ubah: dari menggulingkan rezim, menegakkan demokrasi, menghancurkan kemampuan nuklir, hingga menjaga kelancaran Selat Hormuz yang sebenarnya tidak pernah tertutup sebelum perang dimulai. Trump tidak pernah meminta otorisasi perang dari Kongres, dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio baru terlibat secara bertahap di tengah Departemen Luar Negeri yang kehilangan banyak pakarnya.

Warisan Kesepakatan Bersejarah 1972 dan Jalan Terjal Reagan

Keberhasilan Reagan mencapai terobosan pengendalian senjata dengan Soviet merupakan pencapaian terbesar sejak 1972, ketika Nixon dan Leonid Brezhnev menandatangani SALT I. Saat itu, hampir tidak ada yang meramalkan Reagan akan menjadi presiden yang mampu melampaui warisan Nixon yang pernah ia kecam habis-habisan.

Kini, pemerintahan Trump justru tampak mereduksi tujuan negosiasinya menjadi sekadar kesepakatan yang mempertahankan rezim Iran dengan kemampuan militer yang melemah, mengizinkan mereka menyimpan material nuklir di fasilitas yang sulit diakses, dan memberi Teheran kendali lebih besar atas Selat Hormuz—termasuk potensi memungut biaya dari kapal yang melintas.

Laporan dari dalam Gedung Putih menyebut tidak ada rencana jelas atau strategi koheren. Pada hari tertentu, unggahan di platform Truth Social bisa mengubah arah pembicaraan secara drastis, mencerminkan pendekatan transaksional Trump yang kerap kali tanpa perencanaan mendalam.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: foreignpolicy.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top