PALU — Tim Direktorat Promosi Kebudayaan, Ditjen Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI, melakukan survei dan koordinasi di Kota Palu serta Kabupaten Sigi pada 11–14 Agustus 2026. Salah satu rangkaian kegiatannya adalah bertemu pengurus PWI Sulteng untuk menggali informasi sejarah dan tradisi lisan yang berkaitan dengan ulama besar asal Gowa itu.
Tim yang datang ke sekretariat PWI Sulteng terdiri atas A. Sulkarnaen, Hafsah, Acmad Iqbball Subbarkah, dan Keni Anggraini. Mereka didampingi perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Tengah, Muhammad Dede Al-Fassy. Rombongan diterima Sekretaris PWI Sulteng Temu Sutrisno, Wakil Ketua Bidang Organisasi Fery, Divisi Pendidikan Jefrianto, serta Divisi Budaya Jamrin AB.
Dalam pertemuan tersebut, pengurus PWI Sulteng memaparkan sejumlah tradisi lisan yang berkembang di wilayah Sulawesi Tengah, khususnya Donggala dan Tawaeli. Salah satu kisah yang mengemuka adalah soal sosok Daeng Kondang atau Bulangisi, seorang mubalig asal Sendana, Mandar.
Masyarakat setempat meyakini Daeng Kondang sebagai salah seorang murid Syekh Yusuf Al-Makassari yang menyebarkan Islam di Tawaeli pada abad ke-17. Kisah ini menjadi salah satu penanda bahwa pengaruh Syekh Yusuf tidak berhenti di pusat kerajaan, melainkan menyebar hingga ke komunitas pesisir di pantai barat Sulawesi.
Diskusi kemudian melebar pada konteks jaringan intelektual Islam yang terbentuk melalui mobilitas manusia di kawasan maritim. Jalur pelayaran Selat Makassar dinilai penting untuk memahami hubungan antara pusat-pusat perdagangan, komunitas Muslim, ulama, dan mubalig di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, hingga wilayah utara Sulawesi.
Donggala dan Wani disebut sebagai bagian penting dari ruang maritim tersebut. Donggala, yang berada di pesisir Selat Makassar, sejak lama memiliki pelabuhan yang menjadi bagian dari lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Dalam perkembangan jaringan pelayaran kolonial, Donggala bahkan menjadi salah satu titik penghubung jalur Makassar dan Manado.
Sementara Wani, yang berada di kawasan Teluk Palu, menjadi pelabuhan penting yang menghubungkan jalur maritim Selat Makassar dengan wilayah pedalaman. Penelitian mengenai jaringan orang Arab di Teluk Palu mencatat keberadaan komunitas Arab di Wani sejak pertengahan abad ke-19. Mereka datang sebagai pedagang dan sebagian berperan dalam penyebaran ajaran Islam.
Pertemuan juga membahas hubungan antara ajaran tarekat yang dibawa Syekh Yusuf dengan keberadaan komunitas masyarakat asal Cikoang di Palu dan sekitarnya. Sebagian komunitas tersebut masih menerapkan ajaran tarekat, di antaranya Khalwatiyah, Naqsabandiyah, dan Qadiriyah.
Pihak PWI Sulteng turut menjelaskan tiga fase penyebaran Islam di Sulawesi Tengah. Fase pertama ditandai kedatangan mubalig asal Minangkabau, Dato Karama. Fase kedua merupakan penyebaran Islam oleh mubalig asal Bugis, Makassar, dan Mandar. Fase ketiga ditandai penyebaran Islam oleh Sayyid Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua, serta berkembangnya organisasi Islam seperti Muhammadiyah.
Koordinasi ini menjadi bagian dari penghimpunan informasi dan fasilitasi yang diperlukan untuk penyelenggaraan Temu Narasi SYAM. Kegiatan tersebut mencakup koordinasi, diskusi, dan penjajakan dukungan pelaksanaan di Kota Palu dan Kabupaten Sigi.