SULAWESI TENGAH — PT VinFast Indonesia akhirnya meluncurkan lini motor listrik untuk pasar Tanah Air, Kamis (13/2). Tiga model yang diperkenalkan adalah VinFast Evo, Feliz II, dan Viper. Masing-masing hadir dengan tiga skema pembelian yang berbeda, mulai dari battery subscription hingga kepemilikan baterai penuh.
Strategi ini, menurut manajemen VinFast, bertujuan memberi fleksibilitas bagi konsumen. Pembeli bisa memilih paket yang paling sesuai dengan anggaran dan kebiasaan berkendara harian mereka.
Viper diposisikan sebagai motor bergaya sporty yang menyasar anak muda. Sementara Feliz II dan Evo merupakan pengembangan dari model yang sudah dipasarkan di Vietnam, dengan sejumlah penyempurnaan agar cocok dengan karakter konsumen Indonesia.
Meski karakternya berbeda, ketiganya menggunakan platform teknologi yang sama. Hasilnya, pengalaman berkendara dari sisi performa dan efisiensi disebut mirip antar model.
Semua model dibekali motor BLDC in-wheel berdaya 5.200 watt. Viper dan Feliz II mampu melaju hingga 90 km/jam, sedangkan Evo memiliki kecepatan puncak 80 km/jam. Baterai yang digunakan adalah Lithium Ferro Phosphate (LFP) 1,5 kWh, dan setiap motor punya dua kompartemen di bawah jok untuk memasang dua baterai sekaligus.
Dalam kondisi dua baterai penuh, Evo diklaim bisa menempuh jarak 150 kilometer. Viper dan Feliz II sedikit di bawahnya, yakni 145 kilometer berdasarkan standar pengujian pabrikan. Kapasitas ini dinilai cukup untuk mobilitas perkotaan maupun perjalanan jarak menengah.
Skema battery subscription membuat harga jual motor lebih murah, tapi pemilik tetap harus membayar biaya langganan baterai bulanan. Sebaliknya, opsi single atau double battery own membuat konsumen memiliki baterai sepenuhnya.
VinFast menggandeng V-GREEN untuk menyediakan stasiun penukaran baterai publik. Sebagai bagian dari program peluncuran, setiap pemilik motor listrik VinFast mendapat layanan battery swapping gratis selama satu tahun, maksimal 20 kali penukaran per bulan per unit.
Selain itu, seluruh model mendapat garansi hingga 4+2 tahun atau 60.000+12.000 kilometer, mana yang tercapai lebih dulu. Program ini diharapkan bisa menekan biaya kepemilikan jangka panjang dan memberi rasa aman bagi konsumen yang baru beralih ke kendaraan listrik.