SULAWESI TENGAH — Lionel Messi kembali menjadi pusat perhatian jelang laga puncak Piala Dunia 2026. Kapten Timnas Argentina itu disebut bukan sekadar pemilik ban kapten, melainkan figur pemersatu yang mengubah dinamika ruang ganti Albiceleste.
Pengalaman unik diungkapkan gelandang Enzo Fernandez. Saat pertama kali bergabung, ia mengaku gemetar berhadapan langsung dengan sang megabintang.
"Dia membuat segalanya menjadi mudah. Dia mengobrol dengan kami seolah kami sudah berteman bertahun-tahun," ujar Fernandez dalam wawancara belum lama ini.
Sikap Messi yang hangat membuat pemain muda seperti Alexis Mac Allister dan Julian Alvarez cepat beradaptasi. Tak ada sekat antara bintang dan pendatang baru di skuad Argentina.
Di lapangan, Messi memimpin lewat aksi, bukan teriakan. Ia rela turun membantu pertahanan, melakukan pressing, dan berduel fisik meski usianya sudah 39 tahun.
Giuliano Simeone memberikan apresiasi via 433. "Leo sudah berusia 39 tahun, dia sudah punya semuanya, tapi masih terus bertarung dengan sangat luar biasa," katanya.
Kerendahan hati itu menghapus ego di ruang ganti. Para pemain muda yang datang sebagai pengagum justru disambut sebagai rekan setara oleh pemegang delapan Ballon d'Or tersebut.
Loyalitas skuad terhadap sang kapten tergambar jelas dari pernyataan Rodrigo De Paul. Gelandang yang kerap dijuluki bodyguard Messi itu tak ragu berkorban.
"Kalau Messi meminta kami pergi berperang demi dia, kami akan melakukannya tanpa ragu," tegas De Paul.
Kiper Emiliano Martinez bahkan menempatkan Messi di atas ambisi pribadi. "Saya ingin memenangkan Piala Dunia untuk Messi. Saya lebih rela dia yang memenangkannya daripada saya sendiri," ujarnya.
Final melawan Spanyol di MetLife Stadium menjadi panggung berikutnya bagi ikatan kuat ini. Argentina berpeluang mengulang sukses Piala Dunia 2022, dengan cinta dan hormat rekan setim sebagai bahan bakar utama perjalanan Messi.