SULAWESI TENGAH — Kenaikan harga oli mesin yang terjadi di beberapa merek sepeda motor dalam beberapa bulan terakhir juga berdampak pada TVS. Aftersales Service Manager TVS Motor Company Indonesia, Mardani, menyebut penyesuaian harga pada produk pelumas tidak bisa dihindari karena sebagian komponen biaya pengadaan masih bergantung pada kurs mata uang asing.
"Jadi memang ada sedikit kenaikan karena dengan situasi dari rupiah ke dolar. Cuma untuk pemakaian atau konsumsi di bengkel, kita tetap menjaga agar pelanggan tetap nyaman. Memang ada kenaikan dari harga oli," ujar Mardani saat ditemui Otorider, Kamis (2/7/2026).
Mardani mengungkapkan bahwa kenaikan harga oli mencapai kisaran 40 persen dibandingkan harga sebelumnya. Meski terbilang signifikan, ia menegaskan bahwa penyesuaian tersebut baru dilakukan satu kali sepanjang tahun ini.
"Kalau kenaikan olinya itu sampai sekitar kurang lebih 40 persenan. Tahun ini baru sekali," tambahnya.
Berbeda dengan oli, TVS memilih untuk tidak menaikkan harga seluruh komponen suku cadang. Langkah ini diambil untuk menjaga biaya perawatan kendaraan tetap ekonomis bagi pengguna setia.
"Kalau untuk spare part belum. Oli memang baru ada kenaikan, tetapi spare part kita masih tetap normal," jelas Mardani.
Kebijakan serupa juga berlaku untuk tarif jasa servis di bengkel resmi. Mardani memastikan biaya jasa mekanik tidak berubah. Peningkatan total biaya yang dibayarkan pelanggan saat servis berkala semata-mata karena adanya penyesuaian harga oli.
"Biaya servis itu pengaruhnya hanya karena oli. Jadi hanya di olinya saja yang naik. Kalau spare part tidak ada kenaikan," ujarnya.
Keputusan menahan harga suku cadang dan jasa servis menjadi strategi TVS untuk menjaga total cost of ownership (TCO) motor tetap bersaing di pasar. Dengan hanya menaikkan harga oli yang memang terdampak langsung fluktuasi nilai tukar, perusahaan berharap pengguna tidak terlalu terbebani oleh lonjakan biaya perawatan secara keseluruhan. (*)