Prabowo Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan, 750 Direksi dan Komisaris Kena Efisiensi

Penulis: Deni Kurniawan  •  Senin, 29 Juni 2026 | 19:43:01 WIB
Presiden Prabowo mengumumkan pemangkasan jumlah BUMN dari 1.000 menjadi 250 perusahaan.

SULAWESI TENGAH — Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rencana restrukturisasi besar-besaran terhadap BUMN. Targetnya, jumlah perusahaan pelat merah saat ini yang mencapai lebih dari 1.000 akan dikerucutkan menjadi sekitar 250 perusahaan saja. Proses ini disebut sebagai bagian dari upaya menciptakan pengelolaan yang lebih efisien, transparan, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.

Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam penutupan Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, Minggu (16/2). "Kita mau sekarang rasional, efisien, dan ini kita buktikan. Saya minta dalam tahun ini harus selesai. Jadi dalam dua tahun kita akan bikin BUMN-BUMN lebih efisien, lebih transparan, lebih bekerja untuk rakyat," tegasnya.

Beban Gaji Direksi dan Komisaris yang Menguras Uang Negara

Salah satu alasan utama pemangkasan ini adalah tingginya biaya operasional yang harus ditanggung negara. Prabowo menyoroti jumlah direksi dan komisaris yang terlalu banyak di perusahaan yang bahkan tidak mencetak laba.

"750 Dirut, 750 Direksi, kali 4 atau kali 5, 750 Komisaris kali 10. Overhead-nya kayak apa, gajinya kayak apa saudara-saudara. Ini uang rakyat semua. Perusahaan tidak untung hanya bayar overhead," ujar Prabowo di hadapan para akademisi dan pelaku industri.

Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN Dony Oskaria yang turut hadir dalam acara tersebut diminta langsung oleh Presiden untuk memastikan target ini tercapai. "Bagaimana Pak Dony? Ujungnya kita bisa berapa BUMN? Ujungnya nanti 250. Bayangkan, lebih dari 750 kita tutup," kata Prabowo.

Lebih dari 200 Perusahaan Sudah Ditutup

Proses penertiban ini sebenarnya sudah berjalan. Prabowo mengungkapkan bahwa lebih dari 200 perusahaan telah ditutup sebagai bagian dari tahap awal restrukturisasi. Langkah ini dinilai sebagai pembersihan terhadap BUMN yang selama ini tidak memberikan kontribusi optimal bagi negara.

Presiden juga menanggapi usulan dari akademisi agar BUMN mengalokasikan sebagian keuntungan untuk kegiatan riset dan inovasi. Menurutnya, usulan tersebut positif, namun syarat utamanya adalah perusahaan negara harus terlebih dahulu mampu menghasilkan laba.

"Ini bagus usulnya. Masalahnya, BUMN-BUMN ini ada labanya enggak? Sekarang mulai ada. Terima kasih, Danantara terima kasih. Satu tahun ini sudah mulai ada laba," ujar Prabowo, merujuk pada pengelolaan aset oleh badan pengelola investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

Dengan target pemangkasan ini, pemerintah berharap BUMN yang tersisa benar-benar menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang sehat, bukan lagi sekadar beban anggaran negara yang membengkak akibat gaji direksi dan komisaris.

Reporter: Deni Kurniawan
Sumber: pontianakpost.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top