PALU — Sebanyak puluhan peserta dari kalangan pengrajin kain tenun dan perajin kopi mengikuti pelatihan yang digelar di aula Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulteng. Kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan para pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas produksi dan pemasaran produk lokal.
Dalam sambutannya, Sry Nirwanti menekankan bahwa pelatihan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan langkah konkret untuk mendorong promosi produk wastra Sulawesi Tengah agar mampu bersaing di pasar regional maupun nasional. “Melalui kegiatan ini, saya berharap para pengrajin wastra Sulawesi Tengah semakin berkembang, semakin percaya diri memasarkan produknya, dan terus menjaga warisan budaya yang kita miliki,” ujarnya.
Sry Nirwanti memaparkan bahwa wastra Sulawesi Tengah memiliki potensi besar berkat kekayaan motif, desain, dan nilai budaya yang khas. Ia mencontohkan kain Buya dan berbagai motif khas Kota Palu yang kini semakin diminati berbagai kalangan, dari remaja hingga orang dewasa.
“Sekarang kain-kain kita sudah tampil sangat menarik. Modelnya semakin beragam dan bisa dipakai anak muda, remaja, hingga orang dewasa. Ini menunjukkan wastra Sulawesi Tengah mampu mengikuti perkembangan zaman,” katanya.
Perkembangan desain dan penggunaan warna alami disebutnya membuat wastra Sulteng tampil lebih modern tanpa meninggalkan identitas budaya. Ia pun mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih bangga mengenakan produk lokal dalam berbagai kesempatan.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah, Miftachul Choiri, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadirannya menandai komitmen Bank Indonesia dalam mendukung pengembangan UMKM kerajinan dan peningkatan kualitas wastra daerah.
Menurut Sry Nirwanti, kolaborasi antara Bank Indonesia dan Dekranasda menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. “Saya menyampaikan apresiasi kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tengah atas komitmennya mendukung pengembangan UMKM kerajinan dan peningkatan kualitas wastra daerah,” ujarnya.
Selain wastra, pelatihan kali ini juga menyasar sektor barista atau peracik kopi. Langkah ini dinilai strategis mengingat potensi kopi Sulawesi Tengah yang cukup besar. Peserta mendapatkan pendampingan langsung mengenai teknik penyeduhan, manajemen usaha, hingga strategi pemasaran produk kopi lokal.
Sry Nirwanti meminta seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh. Ia berharap ilmu yang diperoleh bisa langsung diterapkan untuk mengembangkan usaha masing-masing. “Ini kesempatan yang tidak datang setiap hari. Manfaatkan sebaik mungkin,” pesannya.