Imunisasi Dasar Anak: Kemenkes Kejar Target 960 Ribu Balita Zero-Dose

Penulis: Gusrizal Anwar  •  Senin, 04 Mei 2026 | 09:25:25 WIB
Kemenkes targetkan imunisasi dasar untuk 960 ribu balita zero-dose di seluruh Indonesia.

Memastikan si Kecil terlindungi dari risiko penyakit menular menjadi prioritas utama setiap orang tua di Indonesia saat ini. Pemerintah kini menargetkan 960 ribu anak yang belum pernah mendapatkan vaksinasi dasar agar segera memperoleh perlindungan kesehatan menyeluruh melalui program nasional terbaru.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama UNICEF dan WHO memperkuat komitmen untuk melindungi kesehatan generasi mendatang. Fokus utama kali ini tertuju pada anak-anak kategori zero-dose, yaitu mereka yang sama sekali belum pernah tersentuh layanan imunisasi dasar. Data terbaru menunjukkan angka yang cukup besar, yakni sekitar 960 ribu anak di berbagai wilayah Indonesia.

Situasi ini menjadi perhatian serius menjelang Puncak Pekan Imunisasi Dunia (PID) 2026. Penurunan cakupan imunisasi yang sempat terjadi selama beberapa tahun terakhir memicu kekhawatiran akan munculnya kembali penyakit-penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Pemerintah bergerak cepat melakukan intervensi agar anak-anak ini tidak kehilangan hak kesehatan mereka.

Mengapa Anak Zero-Dose Menjadi Prioritas Nasional?

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa penguatan imunisasi rutin merupakan agenda mendesak. Pascapandemi COVID-19, terdapat tren penurunan cakupan yang harus segera dipulihkan demi menjaga kekebalan kelompok (herd immunity). Imunisasi bukan sekadar prosedur medis, melainkan perlindungan jangka panjang bagi kualitas hidup anak.

“Kami melihat pascapandemi ada penurunan cakupan imunisasi, dan ini harus segera dibenahi. Imunisasi rutin merupakan benteng utama untuk mencegah kejadian luar biasa penyakit,” ujar Andi Saguni dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/4).

Penyakit menular berbahaya seperti campak, difteri, dan pertusis (batuk rejan) masih mengintai jika cakupan vaksinasi tidak merata. Tanpa perlindungan dasar, risiko terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) di lingkungan pemukiman menjadi lebih tinggi. Hal ini tentu menjadi pengingat bagi Bunda untuk kembali memeriksa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) milik si Kecil.

Jaminan Stok Vaksin dan Kualitas Rantai Dingin

Bunda tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan vaksin di Puskesmas maupun fasilitas kesehatan lainnya. Kemenkes memastikan bahwa stok vaksin nasional saat ini berada dalam kondisi aman. Persediaan yang ada diproyeksikan mencukupi kebutuhan seluruh anak Indonesia hingga sembilan bulan ke depan.

Tantangan utama yang kini dihadapi adalah memastikan distribusi berjalan lancar hingga ke pelosok. Andi Saguni menekankan pentingnya menjaga kualitas rantai dingin (cold chain) di setiap daerah. Suhu penyimpanan yang terjaga sangat krusial agar potensi dan efektivitas vaksin tetap optimal saat disuntikkan kepada anak.

“Ketersediaan vaksin tidak menjadi masalah. Yang perlu dijaga adalah distribusi dan kualitas penyimpanan di daerah agar layanan tetap berjalan baik,” tambahnya. Pengawasan ketat pada sistem penyimpanan ini bertujuan menjamin keamanan setiap dosis yang diterima masyarakat.

Gerakan Bersama Melindungi Hak Kesehatan Anak

Pekan Imunisasi Dunia 2026 bukan sekadar seremoni tahunan bagi tenaga kesehatan. Direktur Imunisasi Kemenkes, Indri, menyebutkan momen ini sebagai gerakan bersama untuk meningkatkan kesadaran publik. Partisipasi aktif orang tua sangat menentukan keberhasilan program ini di lapangan.

“Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebuah gerakan bersama untuk memastikan seluruh anak Indonesia terlindungi melalui imunisasi,” jelas Indri. Kesadaran untuk membawa anak ke Posyandu atau Puskesmas menjadi kunci utama memutus rantai penularan penyakit berbahaya.

Dukungan internasional juga terus mengalir melalui UNICEF Indonesia. Jean Lokenga dari UNICEF menegaskan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan akses kesehatan dasar. Lokasi tempat tinggal yang sulit dijangkau tidak boleh menjadi penghalang bagi anak untuk mendapatkan vaksinasi.

“Semua anak berhak mendapatkan imunisasi, dan pengalaman global menunjukkan hal itu bisa dicapai jika ada komitmen bersama,” kata Jean Lokenga. Ia mencontohkan kesuksesan program The Big Catch-Up yang telah menyalurkan lebih dari 100 juta dosis vaksin di 36 negara sebagai bukti nyata kekuatan kolaborasi.

Menghadapi Tantangan Kepercayaan Masyarakat

Meski imunisasi terbukti sebagai intervensi kesehatan paling efektif, tantangan di lapangan tetap ada. Perwakilan WHO Indonesia, Olivia, mengapresiasi langkah aktif pemerintah Indonesia namun mengingatkan soal pentingnya menjaga kepercayaan masyarakat. Edukasi yang tepat dapat menangkal keraguan orang tua terhadap keamanan vaksin.

Tugas menjangkau anak zero-dose memerlukan pendekatan yang lebih personal dan humanis. Kerja sama antara kader kesehatan dan tokoh masyarakat setempat sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman yang benar. Imunisasi lengkap adalah investasi kesehatan yang paling murah dan efektif dibandingkan biaya pengobatan saat anak jatuh sakit.

Cek Kembali Jadwal Imunisasi si Kecil

Bunda bisa berperan aktif dengan memastikan tidak ada jadwal imunisasi yang terlewat. Jika si Kecil sempat tertinggal satu atau beberapa dosis karena kendala kesehatan atau mobilitas, segera konsultasikan dengan petugas kesehatan. Program imunisasi kejar (catch-up immunization) selalu tersedia untuk memastikan perlindungan anak tetap sempurna.

Pastikan Bunda menyimpan buku KIA dengan baik sebagai rekam medis perjalanan kesehatan buah hati. Dukungan penuh dari lingkungan keluarga akan membuat proses imunisasi menjadi pengalaman yang nyaman bagi anak. Mari bersama-sama sukseskan Pekan Imunisasi Dunia demi Indonesia yang lebih sehat.

Reporter: Gusrizal Anwar
Back to top