Pencarian

Comfort Food Indonesia Jadi Tren Kuliner Gen Z, dari Warung hingga Hidden Gem

Kamis, 01 Oktober 2026 • 15:18:01 WIB
Comfort Food Indonesia Jadi Tren Kuliner Gen Z, dari Warung hingga Hidden Gem
Survei Jakpat 2025 mencatat 61 persen masyarakat Indonesia memilih makan di warung lokal.

SULAWESI TENGAH — Survei Jakpat 2025 mencatat 61 persen masyarakat Indonesia memilih makan di warung lokal dan 58 persen di pedagang kaki lima. Unilever Food Solutions merangkum kecenderungan itu dalam "Future Menu 2026" yang menyoroti tren Culinary Roots dan Street Food Couture. Dua tren ini menempatkan masakan Nusantara sebagai sumber ide menu masa kini, bukan sekadar peninggalan lama.

Unilever Food Solutions (UFS) Indonesia memperkenalkan dua tren kuliner dalam "Future Menu 2026", yakni Culinary Roots dan Street Food Couture. Keduanya melihat makanan lokal sebagai sumber ide yang bisa diterjemahkan ke pengalaman bersantap masa kini. Country Marketing Manager UFS, Raditya Beer, menilai keragaman rasa Nusantara jadi modal utama tren tersebut.

"Buat aku ada dua tren yang paling relevan di Indonesia ini. Kalau kita lihat dari kepulauan Indonesia, sebenarnya banyak sekali palet dan taste yang berbeda-beda dari setiap daerah," kata Raditya saat jumpa pers di Jakarta, Rabu, 30 September 2026.

Mengapa Comfort Food Menarik bagi Gen Z

Di tengah maraknya kuliner Korea dan Jepang, Raditya melihat Gen Z tetap mencari rasa yang akrab sejak kecil. Comfort food, menurut dia, hampir selalu mengarah ke masakan Indonesia atau kuliner Nusantara.

"Di tengah maraknya Korean inspired food, Japanese inspired food, ada satu hal yang selalu bikin mereka (Gen Z) pengin balik lagi, pengin pulang lagi, yaitu comfort food. Nah, comfort food ini pasti masakan Indonesia atau kuliner Nusantara," sebut Raditya.

Kebiasaan menjelajah kuliner Gen Z juga bergeser. Tempat makan tersembunyi, warung sederhana, atau jajanan yang ditemukan tak sengaja kerap lebih berkesan ketimbang restoran besar. Eksplorasi rasa itu kemudian dibagikan lewat konten media sosial.

18 Chef Telusuri Jawa Tengah dan Jawa Timur

UFS menggelar Culinary Trip pada Juni dan Juli 2026 dengan melibatkan 18 chef terkemuka Indonesia. Mereka menjelajahi Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk menemukan bahan, hidangan, bumbu, serta teknik memasak yang bisa jadi pijakan kreasi baru.

Chef Freddie Salim dari SILK Bistro membawa pulang inspirasi Sate Srepeh dari Rembang. Saus santan dan asam jawa tetap dipertahankan, sementara teknik pengolahan ayam dan penyajiannya disesuaikan dengan karakter restorannya.

Freddie, penggemar ketoprak dan gado-gado, menemukan kemiripan rasa pada tahu telur pinggir jalan. "Jadi, kita memang punya modal yang sangat luar biasa. Tinggal bagaimana terus mengeksplorasi dan menerjemahkannya menjadi sesuatu yang tetap relevan. Kalau tidak relevan, mungkin akan sulit untuk mewariskannya pada generasi berikutnya," ujarnya.

Kreasi Menu dari Hidangan Jalanan

Chef Jovan Coraag dari Mata Keranjang mengolah ikan asap yang ditemuinya di Jawa Tengah dengan saus tuturuga khas Manado. Perpaduan itu mempertemukan dua identitas rasa dalam satu hidangan.

Chef Lucky Lukmanul Hakim, pendiri Restoran Dailah, memilih Sate Kerbau terinspirasi dari Kudus dengan tambahan urap dan kelapa bakar sebagai pelengkap. Pendekatan ini membuat hidangan tradisional tetap punya identitas, sekaligus tampil sesuai pengalaman bersantap masa kini.

Bagi traveler yang ingin mengikuti jejak tren ini, kota seperti Kudus, Rembang, dan sejumlah sentra kuliner di Jawa Tengah serta Jawa Timur bisa jadi tujuan wisata kuliner. Informasi terkini soal lokasi dan jam buka warung rekomendasi dapat dikonfirmasi via dinas pariwisata setempat.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks