SULAWESI TENGAH — Prof. Ching-Chuen Chan, ilmuwan kelahiran Magelang yang dijuluki Father of Asian Electric Vehicles, bertemu Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie di Jakarta pada 27 Oktober 2026. Pertemuan itu membahas penyelarasan kurikulum kampus dengan kebutuhan industri kendaraan listrik, program magang, hingga kolaborasi politeknik dengan produsen EV.
Nama C.C. Chan bukan sosok asing di dunia teknologi penggerak listrik. Majalah Global View menjulukinya Father of Asian Electric Vehicles pada 2003, gelar yang kemudian melekat di kalangan akademik dan industri. Yang jarang diketahui publik Indonesia, ilmuwan berusia 89 tahun ini lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 14 Januari 1937.
Chan berasal dari keluarga pengusaha keturunan Tionghoa di Indonesia. Ia menempuh pendidikan teknik elektro dan meraih gelar sarjana serta magister dari China University of Mining and Technology dan Tsinghua University. Gelar doktor diraihnya dari University of Hong Kong pada 1982.
Karier akademiknya tumbuh bersama kontribusinya pada teknologi penggerak listrik. Chan pernah menjabat profesor teknik di University of Hong Kong dan memimpin Departemen Teknik Elektro dan Elektronika di kampus tersebut. Pada 1986 ia mendirikan pusat riset kendaraan listrik di universitas itu.
Selain itu, Chan termasuk pendiri World Electric Vehicle Association dan pernah memimpin organisasi tersebut. Pengalaman panjangnya di bidang riset menjadi alasan pemikirannya dinilai relevan bagi negara yang sedang membangun industri EV, termasuk Indonesia.
Dalam pertemuan dengan Stella, pembahasan mencakup penyesuaian kurikulum perguruan tinggi agar sesuai kebutuhan industri kendaraan listrik. Kesempatan magang bagi mahasiswa, kompetisi kendaraan hemat energi, dan keterlibatan praktisi industri dalam proses pembelajaran juga masuk agenda.
Stella menilai pengembangan kendaraan listrik membutuhkan sumber daya manusia yang disiapkan sejak dari bangku kuliah. Karena itu, kampus didorong terhubung langsung dengan industri agar lulusan tidak gagap saat masuk ke sektor produksi maupun riset.
Chan menekankan pentingnya membangun kemampuan teknologi nasional lewat pendidikan, penelitian, dan inovasi. Menurutnya, pengembangan kendaraan listrik tidak cukup mengandalkan pembelian teknologi dari luar negeri.
"Teknologi tidak bisa hanya dibeli, tetapi harus dikembangkan sendiri. Kita harus mendidik generasi muda, menentukan arah pengembangan teknologi sendiri, serta menemukan dan menciptakan teknologi kendaraan listrik kita sendiri. Kita tidak bisa hanya mengharapkan pihak lain memberikan teknologi kepada kita," ujar Chan.
Pernyataan itu menyoroti tantangan Indonesia. Investasi pabrik dan kenaikan penjualan kendaraan listrik perlu berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi, mulai dari sistem penggerak, baterai, hingga pengembangan kendaraan yang sesuai kebutuhan masyarakat.
Chan menyarankan Indonesia memulai pengembangan teknologi EV dari kendaraan roda dua dan kendaraan berdaya rendah. Pendekatan itu dinilai lebih cepat menghasilkan inovasi yang sesuai kebutuhan pengguna sekaligus membuka penerapan teknologi secara lebih luas.
Kendaraan roda dua juga memberi ruang bagi perguruan tinggi dan politeknik untuk mengembangkan prototipe, menguji teknologi, dan melibatkan mahasiswa dalam penyelesaian persoalan teknis yang dekat dengan kebutuhan industri. Langkah ini sejalan dengan pertumbuhan pasar motor listrik lokal yang dalam beberapa tahun terakhir mendapat insentif dari pemerintah.