JAKARTA — Hetifah Sjaifudian menilai kabut asap yang berkepanjangan membuat keluarga di wilayah terdampak karhutla, termasuk di Sulawesi Tengah dan Kalimantan, kesulitan menjalani aktivitas harian. Anggota Komisi VIII DPR RI itu menyoroti kesehatan bayi dan balita yang terus terancam ISPA selama bencana berlangsung.
"Banyak keluarga harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kabut asap, sementara kesehatan anak-anak balita ikut terancam. Kita tidak boleh menganggap situasi yang berkepanjangan ini sebagai sesuatu yang biasa," kata Hetifah saat dihubungi di Jakarta, Jumat.
Ia menilai kondisi tersebut membutuhkan tindakan cepat dan nyata, mengingat karhutla dan kabut asap telah berlangsung cukup lama di sejumlah daerah.
Data Kementerian Kesehatan menjadi dasar desakan Hetifah. Per 12 Oktober 2026 tercatat 277.075 kasus ISPA secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak karhutla, dengan 22,5 persen atau 62.400 kasus menimpa anak usia 0–5 tahun.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan data itu terus dipantau untuk mendeteksi peningkatan kasus dan memperkuat respons kesehatan.
Kemenkes bersama pemerintah daerah telah memperkuat pemantauan penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas kesehatan, serta distribusi logistik. Hingga 12 Oktober 2026, laporan mencatat mobilisasi 2.106 tenaga medis dan dukungan lebih dari 2,8 juta masker dari pemerintah pusat dan daerah.
Sebagai wakil rakyat dari Kalimantan Timur, Hetifah menyebut masyarakat di Kalimantan turut merasakan dampak karhutla. Ia mendesak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengambil langkah lebih aktif bersama Kemenkes, BNPB, dan pemerintah daerah.
Layanan kesehatan, ruang aman dengan udara bersih, serta perlindungan bagi bayi dan balita diminta benar-benar tersedia dan dapat dijangkau keluarga terdampak. Hetifah juga mendorong pemerintah pusat memperkuat dukungan kepada pemerintah daerah, khususnya di Kalimantan, agar penanganan karhutla dan dampaknya berjalan lebih cepat.
"Keselamatan anak harus menjadi prioritas sehingga bayi dan balita tidak terus menghadapi risiko kesehatan akibat bencana yang berkepanjangan," ujarnya.
Kelompok usia 0–5 tahun paling rentan terhadap paparan partikel kabut asap karena sistem pernapasan mereka belum berkembang sempurna. ISPA pada balita bisa berkembang menjadi pneumonia jika tidak ditangani cepat, terutama di daerah dengan akses fasilitas kesehatan terbatas.
Di Sulawesi Tengah, sejumlah kabupaten yang berdekatan dengan titik panas karhutla menghadapi tantangan distribusi logistik dan tenaga medis. Penambahan 2.106 tenaga kesehatan dan 2,8 juta masker dari pemerintah pusat diharapkan menjangkau puskesmas dan posyandu di wilayah terdampak.
Hetifah menegaskan keselamatan anak harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan penanganan bencana asap ke depan.