SULTENG — Investasi pertambangan yang terus mengalir ke Sulawesi Tengah belum otomatis membuat pengusaha lokal menikmati rantai pasok industri. Itho Murthada SM, Ketua Bidang Pertambangan BPW HIPKA Sulteng, menilai persoalan utamanya bukan pada minimnya potensi pengusaha daerah. Menurut dia, yang jadi soal adalah bagaimana mereka bisa masuk dan terhubung dengan perusahaan-perusahaan besar yang sudah berinvestasi.
Pernyataan itu disampaikan Itho dalam Podcast JMSI Sulteng yang dipandu Rony Shandy, Sabtu (3/10/2026). Ia menyoroti tiga tujuan utama investasi pertambangan: menarik modal, membuka lapangan kerja, dan menyumbang pendapatan negara. Namun, Itho menilai ketiga tujuan itu perlu dilihat lebih jauh, terutama dari sisi dampaknya bagi masyarakat dan pengusaha di daerah.
Itho mencontohkan Morowali dan Morowali Utara sebagai kawasan dengan aktivitas investasi pertambangan yang besar. Meski investasi berkembang pesat di dua wilayah itu, keterlibatan pengusaha lokal dalam rantai industri dinilai masih perlu diperkuat. Ia lantas mengungkap data yang menurutnya menggambarkan masih terbatasnya peran pelaku usaha lokal.
"Masih ada gap yang cukup besar antara ekspektasi kita atau harapan pemerintah terkait dengan keterlibatan pengusaha lokal di berbagai industri pertambangan yang masuk," ujar Itho dalam podcast tersebut.
Menurut Itho, persoalan utama bukan terletak pada minimnya potensi pengusaha lokal. Ia menekankan bahwa kemampuan pelaku usaha daerah untuk masuk dan terhubung dengan perusahaan besar justru menjadi kunci. Tanpa akses ke rantai pasok, pengusaha lokal berisiko hanya menjadi penonton di tengah derasnya modal yang masuk.
Ekspansi industri pertambangan di Sulawesi Tengah memang menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah. Namun, besarnya investasi yang masuk belum sepenuhnya berbanding lurus dengan keterlibatan pengusaha lokal dalam memasok kebutuhan industri.